Kasus baru itu menjadikan Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu, tempat 'Little Africa' diberlakukan kontrol yang ketat untuk semua orang yang keluar masuk wilayah itu.
Guangzhou adalah pusat perdagangan utama dan industri garmen yang menarik banyak pedagang dari seluruh dunia, termasuk Afrika.
Jalan Kuangquan yang dekat dengan sejumlah pasar internasional, kembali beroperasi sejak awal Maret setelah dulu termasuk wilayah yang ditutup saat pandemi Covid-19 mewabah di China.
Namun, pada Selasa (7/4), mulai diberlakukan kembali penjagaan ketat di pintu masuk. Sebelumnya, pada Sabtu lalu, dilakukan pemeriksaan suhu bagi pengunjung yang masuk ke jalan itu.
Pejabat Guangzhou melaporkan bahwa kota itu memiliki 111 kasus impor Covid-19 termasuk setidaknya 16 pasien dari berbagai negara di Afrika, pada Selasa (7/4).
Pejabat kesehatan China telah memperingatkan negara itu untuk berjaga-jaga terhadap kasus impor dari negara-negara seperti Inggris dan Italia tetapi juga dari daerah dengan sistem kesehatan yang kurang berkembang.
Wakil Direktur Komisi Kesehatan Guangzhou, Ouyang Ziwen, mengatakan, lima orang Nigeria yang dites positif sebelumnya sering mengunjungi restoran Emma Food di Jalan Kuangquan, yang sejak itu ditutup untuk pemeriksaan, melansir
SCMP, Selasa (7/4).
Kelima orang Nigeria yang terdeteksi positif virus corona itu pun kemudian diisolasi.
Sejak ditemukannya kasus baru dari impor Covid-19, semua toko kembali ditutup dan beberapa ruas jalan mulai dilakukan pembatasan.
"Toko ditutup sejak 4 April dan saya telah mendengar bahwa penutupan akan berlangsung selama 14 hari," kata petugas kebersihan.
Warga mengeluh akan adanya pembatasan ini tetapi mereka harus mengikuti aturan pemerintah. Orang-orang Afrika yang biasanya terlihat beraktivitas di Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu untuk melakukan bisnis, kini tidak terlihat lagi.
Yang menyedihkan adalah orang-orang Afrika yang tetap nekad datang untuk mencari peruntungan di Guangzhou dan tidak mengetahui akan adanya pembatasan ini. Bukannya bisnis yang mereka dapatkan, tetapi mereka malah menghabiskan uang untuk menyewa hotel untuk karantina.
Seorang warga Nigeria, Henry Odini, tiba di Guangzhou, dua pekan lalu dan terpaksa harus menyelesaikan karantina selama 14 hari di sebuah hotel.
“Ini pertama kalinya saya datang ke China (Guangzhou). Banyak teman dan kerabat telah menghasilkan banyak uang, jadi saya telah merencanakan untuk datang dan membeli pakaian, sepatu dan kemudian menjualnya di Nigeria. Sekarang satu-satunya hal yang saya inginkan adalah pulang tetapi tidak ada penerbangan,†ujar Henry dengan sedih.
Sosiolog di Universitas Sun Yat-sen Guangzhou, Liang Yucheng, mengatakan, ia optimis bahwa situasi akan membaik bagi masyarakat Afrika di kota itu.
“Saya pikir megacity seperti Guangzhou memiliki kapasitas untuk menangani sebanyak 100 kasus setiap hari. Pihak berwenang dapat mengendalikan situasi melalui penyelidikan epidemiologis yang komprehensif. Jadi masyarakat jangan panik,†kata Liang yang prihatin dengan kondisi warga asing seperti Odini yang malah terdampar di kota itu.
Guangzhou mencatat, sekitar 11.000 orang Afrika tinggal dan bekerja di kota itu sejak 2017.