Hingga kini belum ada laporan infeksi Covid-19 di kamp-kamp yang padat pengungsi itu, namun pejabat setempat memperkirakan itu hanya soal waktu.
Para pengungsi tidur berdempetan. Satu kasus muncul maka seluruh pengungsi akan terinfeksi.
Josep Zapater, kepala operasi Badan Pengungsi PBB atau UNHCR di lembah Bekaa mengatakan pihaknya mulai bersiap mendirikan unit isolasi di dalam kamp tersebut jika diperlukan.
"Jika virus muncul di permukiman pengungsi, itu adalah daerah yang penuh sesak di mana sulit untuk diisolasi. Jadi, kami memiliki rencana darurat untuk membangun unit isolasi dari berbagai jenis di permukiman informal untuk para pengungsi," katanya, melansir Al Arabiya.
Ia mengungkapkan, beberapa kota di Bekaa memiliki lokasi yang layak untuk isolasi bagi pengungsi Suriah dan Warga Libanon.
"Kota-kota di Bekaa juga mengidentifikasi situs di luar kamp yang dapat digunakan sebagai unit isolasi untuk warga Lebanon atau Suriah. Sementara UNHCR tidak melakukan pemeriksaan Covid-19 itu sendiri, UNHCR menyediakan sumber daya untuk Kementerian Kesehatan dan akan menanggung biaya penuh pengujian dan perawatan Covid-19 untuk para pengungsi," terang Zapater.
Saat ini yang bisa dilakukan adalah tindakan pencegahan walau itu pun tidak mungkin, mengingat kamp pengungsian sangat padat.
Terutama kurangnya sarana di dalam tenda-tenda pengungsi yang tidak punya alat penyimpanan makanan, alas tidur yang berdempetan serta toilet yang digunakan bersama-sama dan harus antre.
"Kami berusaha agar setiap orang tinggal di rumahnya dan mengkarantina dirinya sendiri dan tidak keluar kecuali untuk hal-hal yang mendesak. Tetapi, tidak seperti keluarga dengan lebih banyak sarana, atau area penyimpanan, yang dapat membeli persediaan selama satu minggu atau satu bulan dalam satu perjalanan, para penghuni kamp umumnya harus berbelanja setiap hari," kata Salah.
Kamp hanya memiliki persediaan terbatas untuk bahan-bahan kebersihan dan sanitasi dan bahwa mereka belum menerima pasokan sanitasi dari PBB atau badan-badan lainnya.
Di sekitar kamp, aparat berusaha melakukan pencegahan penularan dengan melakukan pembatasan pergerakan. Sementara penduduk telah memasang penghalang jalan darurat atau pos pemeriksaan di beberapa daerah untuk mencegah orang luar membawa virus.
Sementara toko-toko tetap buka. Warga Suriah dan Libanon lalu lalang tanpa menggunakan masker.
Pejabat Lebanon menyerukan agar para pengungsi diawasi lebih ketat lagi. Pemimpin Pasukan Libanon Samir Geagea, misalnya, menyerukan agar penduduk kamp-kamp Suriah dan Palestina dilarang meninggalkan kamp-kamp.
“Tidak ada risiko tambahan karena Anda adalah seorang pengungsi, itu tidak berarti Anda memiliki risiko tambahan untuk sakit atau menularkan penyakit kepada orang lain," keluh Zapater yang mendesak pemerintah menerapkan aturan yang lebih baik lagi baik untuk pengungsi maupun untuk warga Libanon.
Zapater juga menekankan kepada para pengungsi agar mentaati apa yang sudah ditetapkan pemeintah setempat.