Wajib Pakai Masker Mengulang Sejarah Lama 1918, Ternyata AS Pelopor Aturan Itu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 06 April 2020, 06:58 WIB
Wajib Pakai Masker Mengulang Sejarah Lama 1918, Ternyata AS Pelopor Aturan Itu
Wajib Kenakan Masker Telah Diterapkan AS Sejak Pandemi 1918/Net
rmol news logo Presiden Trump berulang kali mengatakan ia tidak mau menggunakan masker walau wabah virus corona telah menyerang negaranya dengan luar biasa.

Ia bahkan mengatakan, aturan menutup wajah menggunakan masker tidak perlu diwajibkan. Menurutnya, beberapa orang di AS tidak terbiasa menggunakan masker untuk menutup wajah.

Ketika wabah virus corona melanda China, dengan segera negara itu menetapkan warganya menggunakan masker pelindung. Begitu juga saat wabah menyebar hingga Taiwan dan Filipina, masker menjadi wajib digunakan.

Sementara, di Amerika pada awal pandemic Covid-19 di negara itu, penggunaan masker tidak menjadi sesuatu yang wajib. Begitu juga dengan Eropa, Kepala Petugas Medis Inggris Chris Whitty, misalnya, mengatakan penggunaan masker tidak terlalu perlu.

Apakah kecenderungan menggunakan masker hanya dimiliki oleh orang Asia?

Saat ini, hampir setiap negara mewajibkan warganya untuk menggunakan masker saat keluar rumah sebagai pencegah penularan.  Indonesia sendiri tengah menuju peraturan wajib menggunakan masker.

Melansir CNN, ketentuan menggunakan masker saat pandemi Covid-1 ini sama persis dengan pada saat wabah influenza 1918. Saat wabah yang berlangsung dari Januari 1918 hingga Desember 1920 itu, orang-orang Amerika pada akhirnya mengenakan masker sebagai tindakan pencegahan penularan.

Pandemi mengerikan yang berlangsung panjang itu telah menginfeksi sepertiga populasi dunia atau sekitar 500 juta orang yang menyebabkan sekitar 50 juta kematian, sekitar setengah juta dari yang berada di Amerika Serikat.  

Pemakaian masker wajah akhirnya ditetapkan menjadi wajib dilakukan di wilayah AS untuk pertama kalinya.

Mulanya San Francisco yang membuat kampanye mengenakan masker  di tempat umum.

Walikota San Francisco ketika itu bersama dengan anggota Dewan Kesehatan mengatakan kepada publik untuk mengenakan masker.

"Kenakan masker dan selamatkan hidup Anda! Masker adalah 99 persen mencegah penularan influenza," kata Dewan Kesehatan saat itu.

Kampanye menggunakan masker pelindung bergema melalui pidato, diskusi, lagu-lagu, serta puisi. Ada satu lagu pendek yang liriknya berbunyi: ‘Patuhi hukum dan pakai kain kasa. Lindungi rahang Anda dari cakar septik."

Kuatnya kampanye dan imbauan penggunaan masker disusul dengan peraturan wajib. Sehingga siapa pun yang ditemukan di luar ruangan tanpa masker dapat didenda atau bahkan dipenjara.

Kampanye ini berhasil dan kota-kota California lainnya mengikuti, termasuk Santa Cruz dan Los Angeles, diikuti oleh negara-negara bagian di seluruh AS.

Komite Akademi de Medikal Paris juga menerapkan penggunaan masker sebagai pencegahan penularan influenza. Begitu juga Dr. Niven, petugas medis kesehatan untuk Manchester, di Inggris utara.

Kasus itu seperti mengulang kisah.

Pada pekan ini, Walikota Los Angeles meminta orang untuk mengenakan masker saat berbelanja di tempat umum.

Bahkan, saat semua negara mulai menggunakan masker sebagai langkah pencegahan, yang juga diikuti oleh Eropa dan Amerika,  pasokan masker pun menjadi sulit.

Produsen masker seperti Prophylacto Manufacturing Company of Chicago tidak dapat memenuhi lonjakan permintaan.

Maka, ketika permintaan masker kesehatan tidak bisa terpenuhi, produksi rumahan adalah jawabannya.

Di beberapa wilayah di Amerika, gereja, kelompok komunitas, dan Palang Merah berkumpul bersama, mencari kain kasa sebanyak yang mereka bisa temukan, dan mengadakan sesi pembuatan masker massal.

Penggunaan masker ini juga seperti mengulang sejarah ketika perang yang berlangsung di Eropa pada Oktober 1918.

Surat kabar ketika itu memuat headline: "Masker Gas di Parit; Masker Influenza di Rumah", sementara surat kabar lainnya seperti Washington Times, pada 26 September 1918 melaporkan bahwa 45.000 masker akan diberikan kepada tentara AS untuk menangkal Flu Spanyol.
Ketika Perang Dunia Pertama berakhir pada 11 November, produsen masker gas yang memenuhi kontrak pemerintah beralih produksinya menjadi pembuat masker influenza.

Hukum mengenakan masker kemudian mendapat dukungan publik.

Pemerintah Arizona bahkan mengeluarkan peraturan wajib menggunakan masker wajah pada 14 November 1918. Kecuali bagi pengkhotbah, penyanyi, dan aktor, karena dianggap berada cukup jauh dengan para audiensi.

Kepala Kepolisian Bailey mengatakan kepada Warga Negara Tucson, “Tidak ada pertemuan yang akan dianggap fashionable kecuali para peserta mengenakan topeng."

Apakah menggunakan masker cukup berhasil sebagai pencegahan penularan?

Desember 1918, surat kabar Times di London melaporkan bahwa penggunaan masker  telah ditetapkan oleh dokter di Amerika Serikat. Namun ia menekankan, influenza menular lewat kontak dan sebenarnya bisa dicegah.

The Times mencatat bahwa di satu rumah sakit di London semua staf dan pasien telah dikeluarkan, dan diperintahkan untuk terus-menerus memakai, masker wajah. Surat kabar itu mengutip keberhasilan masker wajah di satu kapal.

Jurnalis sains Laura Spinney, penulis buku 2017 "The Pale Rider: The Spanish Flu 1918 dan How it Changed the World," mencatat, bahwa setelah pengalaman mereka di Manchuria pada tahun 1911, Jepang dengan cepat memakai masker di ruang terbuka.

Pihak berwenang Jepang berpendapat bahwa masker adalah gerakan sopan dalam melindungi orang lain dari kuman dan telah efektif dalam wabah penyakit sebelumnya di Jepang.

Sehingga semua meyakinkan bahwa penggunaan masker cukup berhasil dalam mencegah penularan virus.

Pada akhir Desember, kota-kota dan negara-negara di Amerika merasa cukup percaya diri untuk menggunakan masker bahkan saat pergi ke beberapa pertemuan.

"Ini adalah hari terakhir untuk hama kecil, bagi mereka yang menggunakan kain kasa (masker kain)," kata surat kabar Chicago pada 10 Desember 1918.

Kini, setelah seabad, justru negara-negara Asia yang mengingat pelajaran yang diberikan oleh AS itu, tentang manfaat menggunakan masker dalam memperlambat penyebaran infeksi.

Beberapa ahli menduga, mengapa Asia setia menggunakan masker hingga saat ini, karena setelah epidemi influenza, Asia kerap dihadang wabah berikutnya seperti kolera, tipus, dan SARS 2003 serta flu burung. Sehingga penggunaan masker tidak pernah dilupakan saat pandemi kembali terjadi.

Wabah-wabah itu ternyata membantu mempertahankan budaya mengenakan masker.

Amerika dan Eropa belum melihat wabah serupa dengan keteraturan seperti itu.

Jadi, tampaknya, gagasan penggunaan masker adalah tindakan pencegahan yang tetap digunakan dari generasi ke generasi. Dan jika merunut sejarah, AS-lah pelopor penggunaan masker itu. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA