Dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi pada awal pekan ini, Duterte mengatakan bahwa tenaga media yang kehilangan nyawa saat merawat pasien Covid-19 telah beruntung karena meninggal dengan cara seperti itu.
"Ada dokter, perawat, pembantu yang meninggal. Mereka yang meninggal membantu orang lain. Mereka sangat beruntung. Mereka mati untuk negara. Itulah yang menjadi alasan mengapa kita mati," ujar Duterte.
"Suatu kehormatan untuk mati demi negaramu, aku jamin," lanjutnya seperti yang dikutip dari
Sputnik pada Kamis (2/4).
Pernyataan Duterte tersebut tampaknya telah memicu kekhawatiran bahwa ia berusaha untuk "meromantisasi" kematian para petugas medis.
Alhasil, dalam media lokal, mereka mengklaim bahwa kematian para petugas medis sebenarnya bisa dihindari jika pemerintah melakukan pencegahan untuk itu.
Ada pun pidato Duterte itu muncul setelah sekitar 12 dokter di Filipina di laporkan meninggal dunia terinfeksi Covid-19 pada 29 Maret. Seiring dengan banyaknya laporan keluaran dari petugas medis akan kurangnya peralatan pelindung diri.
Menurut data dari Universitas Johns Hopkins pada Kamis, Filipina memiliki jumlah infeksi sebanyak 2.311 kasus dengan 96 orang meninggal dunia.
BERITA TERKAIT: