Brexit Belum Berakhir, Ujian Berat Boris Johnson Ada Di Parlemen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Jumat, 18 Oktober 2019, 13:52 WIB
Brexit Belum Berakhir, Ujian Berat Boris Johnson Ada Di Parlemen
Boris Johnson kembali harus menghadapi parlemen Inggris soal Brexit/Net
rmol news logo Senyum semringah penuh kemenangan terukir di wajah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, ketika Brexit resmi mencapai kesepakatan. Sayang, senyum itu tidak bertahan lama karena Johnson kini harus menghadapi ujian berat dari parlemennya sendiri.

Setelah pembiaraan intensif seminggu menuju detik-detik tenggat waktu Brexit 31 Oktober, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker memecahkan keingintahuan publik dengan cuitannya pada Kamis pagi (17/10).

“Kami punya satu! Ini adalah perjanjian yang adil dan seimbang untuk Uni Eropa dan Inggris dan ini merupakan bukti komitmen kami," tulis Juncker seperti yang dikutip Associated Press.

Dengan suara bulat, para pemimpin Eropa menyetujui proposal yang diajukan Johnson dalam Konferensi Tingkat Tinggi, meski sebelumnya ada penentangan keras dari Irlandia mengenai perbatasan. Hasil ini kemudian secara resmi dikirimkan ke Parlemen Inggris yang akan dipertimbangkan dalam sesi khusus pada Sabtu besok (19/10).

Kelegaan Johnson tampaknya hanya bertahan sebentar. Karena dari aromanya, Johnson akan kesulitan untuk mendapatkan persejutuan dari parlemen. Diketahui semua partai oposisi utama dan bahkan sekutu utama Johnson, Partai Unionist Demokrat mengutuk kesepakatan Johnson.

"Tampaknya perdana menteri telah merundingkan kesepakatan yang bahkan lebih buruk daripada Theresa May, yang sangat ditolak,"  ujar pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn.

Parlemen oposisi yang menentang kesepakatan itu mengaku akan berusaha untuk menunda Brexit, hingga ada pemilihan atau referendum maupun negosiasi baru. Bulan lalu, parlemen mengeluarkan undang-undang untuk memaksa pemerintah mencari perpanjangan batas waktu Brexit jika Parlemen tidak menyetujui kesepakatan besok.

Merespons hal ini, Juncker justru mengesampingkan penundaan tersebut. Mengatakan pilihannya adalah dengan kesepakatan yang ada, tidak ada kesepakatan, atau mencabut Brexit. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA