Setelah pembiaraan intensif seminggu menuju detik-detik tenggat waktu Brexit 31 Oktober, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker memecahkan keingintahuan publik dengan cuitannya pada Kamis pagi (17/10).
“Kami punya satu! Ini adalah perjanjian yang adil dan seimbang untuk Uni Eropa dan Inggris dan ini merupakan bukti komitmen kami," tulis Juncker seperti yang dikutip
Associated Press. Dengan suara bulat, para pemimpin Eropa menyetujui proposal yang diajukan Johnson dalam Konferensi Tingkat Tinggi, meski sebelumnya ada penentangan keras dari Irlandia mengenai perbatasan. Hasil ini kemudian secara resmi dikirimkan ke Parlemen Inggris yang akan dipertimbangkan dalam sesi khusus pada Sabtu besok (19/10).
Kelegaan Johnson tampaknya hanya bertahan sebentar. Karena dari aromanya, Johnson akan kesulitan untuk mendapatkan persejutuan dari parlemen. Diketahui semua partai oposisi utama dan bahkan sekutu utama Johnson, Partai Unionist Demokrat mengutuk kesepakatan Johnson.
"Tampaknya perdana menteri telah merundingkan kesepakatan yang bahkan lebih buruk daripada Theresa May, yang sangat ditolak," ujar pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn.
Parlemen oposisi yang menentang kesepakatan itu mengaku akan berusaha untuk menunda Brexit, hingga ada pemilihan atau referendum maupun negosiasi baru. Bulan lalu, parlemen mengeluarkan undang-undang untuk memaksa pemerintah mencari perpanjangan batas waktu Brexit jika Parlemen tidak menyetujui kesepakatan besok.
Merespons hal ini, Juncker justru mengesampingkan penundaan tersebut. Mengatakan pilihannya adalah dengan kesepakatan yang ada, tidak ada kesepakatan, atau mencabut Brexit.
BERITA TERKAIT: