"Semua kendaraan dan warga dilarang keluar di Baghdad pada jam 5 pagi Kamis (3/10), dan sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Abdul Mahdi dalam sebuah pernyataan tertulis seperti yang dikutip oleh Reuters.
Pernyataan tertulis itu juga menyatakan para pelancong ke dan dari bandara Baghdad, ambulans, pegawai pemerintah di rumah sakit, listrik, dan departemen air, serta peziarah religius akan dibebaskan dari ketentuan jam malam.
Ada pun jam malam ini diberlakukan di Nassiriya, Amara, dan Hilla, setelah unjuk rasa yang dimulai pada Selasa (1/10) menjadi kacau. Dalam unjuk rasa Rabu kemarin (2/10), lima orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka akibat bentrokan di beberapa titik. Sementara itu, dalam unjuk rasa sehari sebelumnya, dua orang juga tewas.
Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Irak mengatakan, salah seorang korban tewas adalah anak kecil. Anak itu tewas ketika seorang pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke sebuah kendaraan yang membawa warga sipil di Amara.
Para pengunjuk rasa menuntut jatuhnya rezim karena banyaknya pengangguran, korupsi, dan buruknya pelayanan publik. Kemarahan pengunjuk rasa dilampiaskan dengan aksi bakar gedung-gedung pemerintahan dan partai politik di dua provinsi bagian selatan.
Pemerintahan Abdul Mahdi sendiri baru berjalan setahun dan ketidakstabilan politik semakin menggentayangi negara tu sementara ketegangan regional meningkat. Alhasil, para pengunjuk rasa menginginkan perubahan, yaitu jatuhnya rezim pemerintah Abdul Mahdi.
BERITA TERKAIT: