Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mewakili Indonesia dalam perjanjian kerja sama ini. Sementara perwakilan empat negara yakni Menteri Hubungan Luar Negeri, Hukum, dan Budaya Leichtenstein Aurelia Frick, Kepala Departemen Hubungan Ekonomi Swiss Johann N Schneider Ammann, Sekretaris Negara/ Wakil Perdagangan Kerajaan Norwegia Daniel Bjarmann Simonsen, Duta Besar Islandia untuk Indonesia Hannes Heimisson.
Penandatangan perjanjian Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) ini berlangsung kemarin petang (Minggu, 16/12) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
"Saya bersyukur karena setelah menandatangani Indonesia-Chile CEPA pada Desember 2017 di Santiago, Chile, kembali tahun ini Indonesia menandatangani sebuah penjanjian penting lainnya untuk mendorong kemitraan ekonomi dengan negara-negara sahabat dari kawasan Eropa," tutur Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.
Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan EFTA ini diyakini akan membawa ekonomi Indonesia lebih kuat, berdaya saing, dan menarik bagi investor dari negara-negara maju anggota EFTA.
Perundingan IE-CEPA berlangsung selama hampir delapan tahun sebelum akhirnya dinyatakan selesai secara substantif dalam pertemuan di Bali pada 29 Oktober - 1 November 2018, dan dideklarasikan final oleh para menteri pada 23 November 2018 di Jenewa, Swiss.
Penandatangam perjanjian IE-CEPA berlangsung di tengah melemahnya perdagangan dunia, serta ketidakpastian perdagangan antarnegara di tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya. Sehingga penandatangan perjanjian ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif kepada dunia.
IE-CEPA sendiri mencakup isu-isu perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, ketentuan asal dan bea cukai, fasilitasi perdagangan, pengamanan perdagangan, persaingan usaha, legal, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.
"Ini tentunya akan ikut mendorong proses modernisasi perekonomian Indonesia, mengingat negara-negara EFTA memiliki keunggulan tersendiri di bidang teknologi, energi, pendidikan, transportasi, keuangan, kimia, perikanan dan lainnya, dan dengan didukung oleh kerja sama ekonomi dan pengembangan kapasitas kita harapkan akan terjadi alih-teknologi secara alamiah," ujar Enggar.
Sementara itu Menteri Perdagangan Swiss, Federal Councillor Ammann menyatakan bahwa perjanjian dengan Indonesia
ini sangat ditunggu pelaku usaha dari EFTA yang ingin mengembangkan bisnisnya di kawasan ASEAN.
Sejatinya, hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan EFTA masih jauh dari potensi sesungguhnya, karena baru mencatatkan total nilai 2,4 miliar dolar AS pada 2017.
[wid]