Dutabesar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus M Wahid Supriyadi bersama dengan Rektor Alexander S. Zapesotsky, para gurubesar, tamu undangan dari kalangan diplomat, pejabat pemerintah, seniman, dan tokoh masyarakat secara bersama-sama membunyikan lonceng itu pada Sabtu (1/9).
Ratusan mahasiswa yang hadir dan pihak keluarga serta tamu undangan lainnya juga turut membunyikan lonceng mini yang dipegang masing-masing secara serentak.
“Bercita-citalah menjadi apa saja yang diinginkan dan galilah ilmu setinggi-tingginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bukan tidak mungkin dalam waktu antara 30 hingga 40 tahun mendatang, kalian akan duduk di barisan VIP ini sebagai profesor, gubernur, walikota atau bahkan duta besar," kata Dubes Wahid saat memberikan sambutan di hadapan sekitar 900 mahasiswa dan para undangan.
Dia juga diberi kesempatan untuk memberikan kuliah umum di depan sekitar 300 mahasiswa. Dengan mengusung tema “Indonesia-Russia: From Soekarno-Khrushchev to Current Challengesâ€, Dubes Wahid membahas seputar hubungan bilateral kedua negara ditinjau dari sejarah pre-kemerdekaan sampai kondisi dunia saat ini dan tantangan yang dihadapi kedua negara.
Dia menjelaskan bahwa setelah masa keemasan pertama pada masa pemerintahan Soekarno di Indonesia dan Nikita Khrushchev di Uni Soviet, maka saat ini kedua negara memasuki masa keemasan kedua di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin.
Diakui kedua negara mengalami masa stagnansi di masa Pemerintahan Orde Baru yang anti komunis, namun perlahan hubungan semakin membaik, khususnya sejak bubarnya Uni Soviet. Kedua negara memiliki kesamaan aspek sebagai bangsa yang multi-etnis dan multi-agama, dengan luas wilayah yang sangat besar.
“Namun kedua negara kurang melakukan PR (Public Relations), sehingga kurang dikenal secara luas. Banyak yang menganggap Rusia saat ini kelanjutan dari Uni Soviet dan orang Rusia lebih mengenal Bali daripada Indonesia,†lanjut Dubes Wahid.
Atas alasan itu, Wahid mengajak kedua negara untuk kembali mempererat hubungan. Bukan saja di tingkat pemerintah, tetapi juga di tingkat bisnis dan masyarakat atau
P to P (people to people).“Festival Indonesia yang telah diselenggarakan 3 kali oleh KBRI Moskow didesain untuk itu dan hasilnya pun cukup nyata. Perdagangan kedua negara naik 25 persen menjadi 3,27 miliar dolar AS dan turis Rusia meningkat 37 persen menjadi lebih dari 110 ribu orang tahun lalu. Sebaliknya, lebih dari 20 ribu turis asal Indonesia telah berkunjung ke Rusia tahun yang sama atau meningkat lebih dari 300 persen,†imbuh Dubes Wahid.
[ian]
BERITA TERKAIT: