Imran Ahmad Khan: Tuhan Kasih Saya Kesempatan

Bakal Jadi PM Pakistan Setelah 22 Tahun Berjuang

Jumat, 27 Juli 2018, 08:15 WIB
Imran Ahmad Khan: Tuhan Kasih Saya Kesempatan
Imran Ahmad Khan/Net
rmol news logo Partai pengusung bekas pemain kriket Imran Khan menjadi perdana menteri, Pakistan Tehreek-i-Insaf (PTI), berada di atas angin. Namun langkah Imran menjadi PM tak berjalan mulus.

 Hasil penghitungan semen­tara, PTI bersaing ketat dengan partai penguasa, Partai Liga Muslim Nasional-Nawaz (PML-N). Partai Khan mem­peroleh 42 persen suara atau mendapat 119 dari total 272 kursi di Majelis Nasional. PTIunggul, namun belum mencapai mayoritas tunggal, 137 kursi.

PTI harus berkoalisi sehingga kubunya menguasai lebih dari setengah kursi parlemen. Hanya cara itu yang bisa dilakukan agar Imran menjadi perdana menteri baru.

Dalam pidato kemenangannya, kemarin, Khan mengucapkan syukur kepada Tuhan karena memberinya kesempatan berbakti pada negara.

"Saya bersyukur, setelah 22 tahun berjuang doa saya diijabah, saya punya kesempatan untuk berbakti pada negara," katanya.

Pesaing utama Khan da­lam pemilu, dari partai besar, Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PLM-N) bekas Perdana Menteri Nawaz Sharif, menolak hasil penghitungan suara dan menuding adanya praktik manipulasi.

"Kami akan menggunakan opsi politik dan hukum untuk mem­perbaiki kesalahan mencolok ini. Ada kecurangan besar-besaran yang menyebabkan rusaknya demokrasi negara," tulis Shehbaz Sharif yang merupakan saudara dari Nawaz Sharif, dikutip dari laman BBC, Kamis (26/7).

Partai lainnya juga menyam­paikan laporan serupa terkait ha­sil pemilu kali ini. Namun, para pejabat pemilihan menyangkal adanya masalah teknis dalam proses penghitungan suara dan menolak adanya kecurangan.

Pejabat komisi pemilihan memutuskan menunda merilis hasil penghitungan suara secara elektronik dan menggunakan penghitungan manual. Hasil penghitungan suara dan per­olehan kursi memang berjalan lambat, setelah pemungutan suara berakhir pada Rabu (25/7) pukul 18.00 waktu setempat.

Jika pemilu ini berakhir dengan konflik maka akan terjadi penundaan pembentukan pe­merintahan yang dampaknya akan dirasakan ratusan juta bagi warga Pakistan.

Pemilu Pakistan tahun ini sem­pat diwarnai peristiwa berdarah. Rabu (25/7), sedikitnya 30 orang tewas dan 35 lainnya terluka setelah bom bunuh diri meledak di sebuah TPS saat berlangsungnya pemungutan suara. Insiden ini terjadi di kota barat daya Quetta, provinsi Balochistan. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA