Pemerintah Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), nama resmi Korut, tersinggung dengan klaim AS yang menyeÂbut tekanan politik dan sanksi yang membuat Kim Jong-un bersedia bernegosiasi.
Menurut Korut, klaim WashÂington itu menyesatkan dan menjadi upaya berbahaya yang bisa menghentikan pertemuan bersejarah yang akan berlangÂsung bulan ini.
"AS dengan sengaja memproÂvokasi DPRK pada saat situasi di Semenanjung Korea sedang bergerak menuju perdamaian dan rekonsiliasi," kata KemenÂterian Luar Negeri Korut yang dilansir
Korean Central News Agency (KCNA), kemarin.
Kementerian itu tidak menÂjelaskan secara rinci provokasi apa yang dilakukan AS terhadap Korut. Namun, tuduhan itu diduga mengacu pada komentar Trump yang mengklaim kekuatan AS teÂlah menundukkan Kim Jong-un.
"Kekuatan Washington menÂjauhkan kita dari perang nuklir," kata Trump pekan lalu.
Komentar Trump tersebut, menurut Kementerian Luar Negeri Korut, akan merusak suaÂsana dialog yang akan terjadi.
"Itu menggambarkan gerakan Pyongyang baru-baru ini sebagai tanda kelemahan, itu akan memÂbuat situasi tidak kondusif untuk pembicaraan (Kim Jong-un dan Trump) dan mungkin membawa situasi Semenanjung Korea kemÂbali ke titik awal," pernyataan kementerian tersebut.
Setelah bertemu dengan PresiÂden Korea Selatan Moon Jae-in pada akhir bulan lalu, Kim Jong-un menyatakan negaranya akan bergerak untuk meningkatkan hubungan dua Korea. Pemimpin muda Pyongyang itu juga bersedia untuk mendiskusikan denuklirisasi di semenanjung Korea.
Ketemu Di SingapuraTrump dan Kim diberitakan bakal menggelar pertemuan di Singapura. Kabar tersebut diembuskan media Korea Selatan (Korsel), Chosun dan Yonhap, seperti dilansir
South China Morning Post, Minggu (6/5).
Dalam sepekan terakhir, PanÂmunjom diyakini mempunyai peluang besar bakal menjadi lokasi perundingan Kim dan Trump. Sebab, Trump begitu terpukau dengan perhatian dunia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea yang digelar 27 April lalu.
Namun, sumber internal KorÂsel menjelaskan, Kim dan Trump sepakat untuk menunjuk Singapura sebagai pihak ketiga.
Selain itu, jadwal pertemuan pun mundur dari akhir Mei menÂjadi pekan ketiga Juni setelah pertemuan G7 di Kanada pada 8-9 Juni mendatang.
"Namun, ada peluang PanmuÂnjom kembali dipertimbangkan mengingat Trump yang begitu sulit diprediksi," demikian dari Chosun dan Yonhap. ***