Melalui surat tersebut dilaporkan, bahwa serangan AS dan sekutunya telah menghancurkan beberapa gedung penelitian di Barzch di Damaskus.
"Serangan ini juga menyebabkan beberapa kerusakan di pusat pendidikan dan laboraturium di dekat Homs. Tiga warga sipil yang sedang berada dekat wilayah itu juga mengalami luka-luka," terang pihak Kementerian Luar Negeri Suriah dirilis dari Kedutaan Besar Suriah untuk Indonesia kepada redaksi, Rabu (25/4).
Serangan ini, kata pemerintah Suriah, merupakan bentuk tekanan dari rezim barat yang frustasi. Karena Suriah sebentar lagi akan bisa merebut wilayah dari teroris.
Peluncuran misil tersebut juga bertepatan dengan investigasi dari pihak Organisasi Pelarangan Senjata Kimia alias OPCW (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons).
"Ini menunjukkan bahwa serangan itu bertujuan untuk menghambat investigasi yang ditakutkan akan menghasilkan sesuatu yang tidak terbukti. Bahwa senjata kimia digunakan di Suriah," lanjut pernyataan tersebut.
Menurut pemerintah Suriah, serangan ini merupakan kecerobohan yang dibuat oleh AS dan sekutunya. Teknisnya, dengan melegalkan serangan. Padahal, mereka adalah anggota PBB yang harusnya memprioritaskan perdamaian dunia.
Seperti diketahui, AS dan sekutunya menyerang Suriah dengan 110 misil. Mereka menargetkan Damaskus dan beberapa daerah dan kota di Suriah. Namun, serangan-serangan tersebut berhasil diredam oleh sistem pertahanan udara Suriah. [sam]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: