Dimuat
Al Jazeera, bom berdatangan layaknya hujan di sejumlah lingkungan di ibukota pada hari Minggu (5/11). Serangan tersebut menargetkan sebuah panggung di alun-alun al-Sabeen yang digunakan oleh pemberontak Houthi untuk parade militer, istana kepresidenan terdekat, markas keamanan nasional dan kementerian dalam negeri.
Kantor berita Saba yang dikelola Houthi melaporkan lebih dari 15 serangan udara terjadi di Sanaa dan 14 lainnya di distrik Sinhan dan Bani Bahloul.
Fatik al-Rodaini, seorang aktivis yang berbasis di Sanaa mengatakan bahwa sejumlah serangan terjadi di kota tua di Sanaa yang merupakan situs warisan dunia UNESCO.
"Ini adalah hari terburuk yang pernah saya alami sejak awal perang," kata Rodaini.
"Saya takut untuk kehidupan anak-anak saya Mereka tidak pergi keluar sepanjang hari. Hanya beberapa menit yang lalu saya berpikir untuk membiarkan mereka lari ke toko-toko tapi kami mendengar ledakan keras lain dan istri saya berkata tidak," jelasnya.
"Orang-orang Saudi tidak peduli dengan anak-anak kita, masa depan kita, kehidupan kita. Mereka tahu bahwa warga sipil tinggal di dekat gedung-gedung pemerintah namun mereka terus menargetkan daerah-daerah tersebut," sambungnya.
Beberapa jam sebelumnya, militer Saudi mengkonfirmasikan telah mencegat sebuah rudal balistik yang dilepaskan dari wilayah Yaman menuju kerajaan tersebut.
Kolonel Turki al-Maliki mengatakan pasukan Saudi mencegat rudal balistik dengan rudal Patriot antar permukaan yang menyebabkannya pecah menjadi fragmen di daerah tak berpenghuni di sebelah timur Bandara Internasional Khalid Riyadh.
Houthi sendiri mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan berjanji untuk menargetkan ibu kota negara-negara Arab yang sedang membom negara tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: