"Orang-orang ini tidak dapat tetap tanpa kewarganegaraan karena ketidakpedulian ini menghadapkan mereka pada diskriminasi dan penganiayaan, seperti yang terjadi di masa lalu," kata Filippo Grandi pada sebuah konferensi pers setelah berbicara di Dewan Keamanan PBB pada hari Kamis (2/11).
.
"Bagi orang-orang untuk kembali dan untuk kembali ini berkelanjutan, Anda perlu membahas masalah kewarganegaraan yang sangat kompleks," tegasnya seperti dimuat
Press TV.
Sejak konflik kekerasan meleutus di wilayah Rakhine Myanmar di mana banyak warga Rohingya tinggal, lebih dari 600 ribu warga Rohingya telah angkat kaki ke Bangladesh.
Banyak dari mereka yang telah melarikan diri telah menceritakan kembali catatan mengerikan tentang pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran di tangan pasukan Myanmar.
Akar krisis tersebut adalah penolakan Myanmar untuk memberikan kewarganegaraan kepada komunitas Rohingya. Pemerintah mengatakan Rohingya harus pergi ke Bangladesh yang dinilai sebagai negara asal mereka. Sementara Bangladesh mengatakan bahwa mereka orang Myanmar dan Dhaka menerima pengungsi Rohingya hanya dengan alasan kemanusiaan.
[mel]
BERITA TERKAIT: