Juru bicara Kementerian Integrasi Luar Negeri dan Integrasi Moldova, Ana Samson, mengkonfirmasi pada awal pekan ini bahwa diplomat Rusia akan diusir, namun dia tidak mengidentifikasi mereka atau menjelaskan alasan di balik tindakan tersebut.
Langkah itu mendapat menentangan dari Presiden Moldova Igor Dodon.
Dalam sebuah postingan Facebook, ia menyebut bahwa pemerintah telah mengambil langkah keterlaluan terhadap mitra strategis Rusia.
"Ini kemungkinan besar telah dilakukan atas perintah dari Barat, bahkan mungkin dari seberang lautan, oleh mereka yang khawatir bahwa dialog yang konstruktif dan efektif akhirnya ditemukan antara presiden dan Kremlin," tambahnya seperti dimuat
Press TV.
Moldova telah diperintah oleh suksesi pemerintahan pro-UE, namun pemilihan Dodon pada akhir 2016 mengindikasikan hilangnya kepercayaan para pemimpin pada pemimpin mereka.
Dodon memenangkan pemilihan presiden dengan janji untuk mengerem hubungan tujuh tahun yang dekat dengan Uni Eropa setelah sebuah skandal korupsi besar-besaran melemahkan popularitas pesaingnya pro-Brussels.
Dia menyatakan awal tahun ini bahwa dia bermaksud membatalkan perjanjian asosiasi Uni Eropa Moldova dan membangun kembali hubungan dengan Moskow, sebuah langkah yang dibanting oleh politisi pro-Barat negara itu yang memegang mayoritas di parlemen dan mengendalikan pemerintah.
Moldova sendiri adalah negara termiskin di Eropa yang berbatasan dengan Ukraina dan Rumania, yang memiliki ikatan linguistik dan budaya yang dekat, namun tetap sangat bergantung pada pasokan energi Rusia.
[mel]
BERITA TERKAIT: