Ia adalah Eike Batista, seorang petinggi minyak dan pertambangan Brasil. Batsita keluar dari penjara di Rio de Janeiro untuk menjadi tahan rumah akhir menjelang pengadilan korupsi akhir pekan kemarin.
Batista ditangkap Januari lalu setelah dituduh menyuap dan menyembunyikan dana ilegal di luar negeri. Namun ia membantah melakukan kesalahan tersebut.
Pengacara Batista berargumen bahwa dia dipenjara hanya untuk menenangkan opini publik.
Hakim pengadilan tinggi Gilmar Mendes pekan lalu memutuskan bahwa Batista dapat menunggu persidangan di bawah tahanan rumah karena tidak ada dugaan kejahatan yang melibatkan kekerasan atau ancaman terhadap orang lain.
Lima tahun lalu, Eike Batista memiliki perkiraan harta kekayaan lebih dari 35 miliar dolar AS. Namun kemudian ia kehilangan sebagian besar hartanya karena kerajaan bisnisnya ambruk.
Penangkapan BAtista menjadi sorotan, karena sang bekas miliuner itu ditahan di penjara penuh sesak dengan sejumlah tahanan lainnya di penjara Rio de Janeiro.
Di bawah undang-undang Brasil, tahanan akan dikirim ke sebuah penjara khusus jika ia memegang gelar universitas.
Namun sayang, Batista tidak menamatkan pendidikan di universitas Jerman. Ia pun mendekam di sel biasa bersama enam narapidana lainnya di penjara.
Berdasarkan syarat pembebasannya, Batista harus tetap berada di rumahnya di Rio de Janeiro dan dapat dikunjungi oleh polisi setiap saat tanpa peringatan.
Dia juga tidak diizinkan untuk bertindak sebagai direktur perusahaan di mana ia memiliki jabatan.
[mel]
BERITA TERKAIT: