Pekerja profesional di bidang IT dan komputer asal India mengaku khawatir akan keselamatan mereka pasca kasus pembunuhan Srinivas Kuchibhotla di Amerika Serikat.
Ia dan seorang pria India lainnya diketahui tengah minum di sebuah bar di Kansas pekan lalu katika ditembak oleh seorang pria yang dilaporkan berteriak "keluar dari negara saya" saat melepaskan tembakan.
Penembakan itu menjadi sorotan mengingat munculnya kembali isu rasisme.
Salah satu bentuk kekhawatiran terlihat di sebuah kuil di wilayah Hyderabad India yang dikenal sebagai pusat IT India.
Kuil Chilkur Balaji di pinggiran kota dikenal oleh masyarakat lokal sebagai kuil "visa". Pasalnya, banyak orang yang memanjatkan doa di kuil tersebut dan berharap untuk bisa melakukan perjalanan ke Amerika Serikat sebelum mengajukan permohonan visa Amerika Serikat.
Banyak dari mereka yang berdoa meminta kemudahan dalam pengajuan visa Amerika Serikat lolos.
Namun pasca kasus penembakan tersebut, terjadi penurunan yang cukup signifikan dari para pendoa di kuil tersebut.
"Kami mulai berdoa untuk keamanan mereka dan berdoa agar pemikiran Donald Trump soal India akan berubah karena anak-anak kira merupakan pekerja profesional," kata imam kuil CS Rangarajan.
Pernyataan tersebut merujuk pada aturan baru di Amerika Serikat yang bertujuan untuk membatasi masuknya pekerja profesional termasuk dari India.
Diketahui bahwa hampir 70 persen visa pekerja profesional IT Amerika Serikat dibeirkan kepada India.
[mel]
BERITA TERKAIT: