Prediksi Forbes, Rusia Akan Menangkan Permainan Energi Dan Diplomasi Tahun Ini

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 06 Januari 2017, 18:12 WIB
Prediksi Forbes, Rusia Akan Menangkan Permainan Energi Dan Diplomasi Tahun Ini
Ilusrtasi/RT
Kecil Besar
rmol news logo Bulan-bulan terakhir di tahun 2016 membawa strategi besar bagi Rusia dari tiga sudut yang semula "tidak ramah" yakni Amerika Serikat, Jepang dan Qatar.

Dalam sebuah artikel yang dimuat di Forbes akhir tahun kemarin, kontributor Nishtha Chugh mengatakan bahwa kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat serta kesepakatan multi-miliar di bidang energi dengan Jepang dan Qatar merupakan hadiah yang sempurna untuk Rusia.

Kunjungan dua hari yang dilakukan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Jepang beberapa pekan lalu juga bisa memperkuat asumsi itu.

Dalam kunjungan singkat itu ada sekitar 60 penawaran komersial hitam di atas putih terjalin antara kedua negara. Di antaranya adalah kesepakatan energi yang diteken oleh perusahaan minyak Rusia, Rosneft dan konglomerat perusahaan Jepang.

"Miliar dolar berpotensi akan mengalir antara Jepang dan Rusia pada eksplorasi lepas pantai betsama, mebangunan pabrik LNG lainnya di Sakhalin dan pipa gas yang menghubungkan Hokkaido," begitu bunyi artikel Forbes sebagaimana dilansir ulang Russia Today pekan ini.

Di sisi lain, kemenangan Trump di Amerika Serikat juga telah mengisyaratkan perubahan nasib politik dan ekonomi Rusia. Hal itu cenderung menciptakan ketidakpastian strategis bagi Jepang.

Penunjukkan kepala Exxon Rex Tillerson sebagai Sekretaris Negara oleh Trump menunjukkan kehadiran Amerika di Rusia, mengingat hubungan dekat Tillerson dengan Rusia. Hal itu mengurangi lingkup Jepang untuk bermain di posisi mediator antara Amerika dan Rusia.

Selain itu, poros penting lainnya juga datang dari Qatar. Hal itu tercermin dari hubungan baru dalam kerjasama energi antara dua negara tersebut.

Desember kemarin, Qatar bersama dengan pedagang komoditas Glencore menandatangani kesepakatan untuk membeli 19,5 persen saham di perusahaan minyak terbesar Rusia Rosneft.

Kesepakatan senilai 11,3 miliar dolar AS itu telah menjadi kesepakatan privatisasi terbesar di Rusia.

Sementara beberapa ahli melihat kesepakatan Qatar dengan Rosneft Rusia sebagai cerminan pragmatisme dalam kebijakan luar negerinya, pragmatisme itu bisa bermain untuk memberi manfaat bagi Rusia. [mel]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA