Amerika Serikat diketahui menuduh Rusia melakukan peretasan email Partai Demokrat dan capres Hillary Clinton jelang pemilu November lalu di Amerika Serikat.
Rusia membantah tudingan-tudingan tersebut. Bahkan Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump juga mengolok-olok tudingan itu dengan menyebutnya sebagai tindakan konyol dan bermotif politik.
Namun badan-badan intelijen mengatakan bahwa mereka memiliki bukti bahwa peretas dari Rusia berada di balik peretasan.
Juru bicara Gedung Putih pekan ini bahkan mengatakan Presiden Vladimir Putin terlibat dalam serangan cyber.
"Saya pikir tidak ada keraguan bahwa ketika pemerintah asing mencoba untuk berdampak pada integritas pemilihan kita, bahwa kita perlu mengambil tindakan dan kita akan, pada waktu dan tempat yang dipilihnya sendiri," kata Obama (Kamis, 15/12).
"Beberapa mungkin eksplisit dan dipublikasikan. Beberapa hal tidak mungkin," sambungnya.
"Putin sangat menyadari perasaan saya tentang hal ini, karena saya berbicara kepadanya secara langsung tentang hal itu," tegas Obama.
[mel]
BERITA TERKAIT: