Namun, kematia Castro terjadi jelang perbahan posisi di Gedung Putih, di mana Donald Trump akan akan menggantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat.
Trump sendiri merupakan sosok yang kerap mengkritik langkah Obama dalam upayanya memperbaiki hubungan diplomatik serta perdagangan dengan Kuba.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi lokal CBS di Miami Oktober lalu, Trump menyebut bahwa langkah Obama untuk menormalisasi hubungan dengan Kuba merupakan perjanjian yang lemah.
Dalam kesempatan lainnya, yakni kampenye September lalu di Miami, Trump pernah mengecam perubahan kebijakan Kuba.
Sebastián Arcos, direktur dari Kuba Research Institute di Florida International University menyebut bahwa Kuba menantikan masa depan yang lebih baik dengan perbaikan hubungan diplomatik Havana-Washington.
"Mereka (warga Kuba) melihat perubahan dengan optimisme, untuk alasan sedehana, mereka memahami bahwa masalah di Kuba adalah hasil dari permusuhan dari Amerika Serikat," katanya seperti dimuat
CNN.
"Ketika Presiden mengatakan tidak ada lagi ada permusuhan, mereka optimis tentang perubahan," tambahnya.
Namun demikian, Arcos menyebut bahwa Kuba condong dengan capres dari Partai Demokrat yakni Hillary Clinton. Pasalnya, ia dan Obama berasal dari partai yang sama dan meyakini bahwa kemungkinan besar kebijakan di bawah Obama akan dilanjutkan oleh Hillar.
"Mesin propaganda Kuba mempromosikan Hillary Clinton," katanya.
Hillary jugalah yang dalam kampanyenya menggangungkan untuk mengangkat embargo Amerika Serikat atas Kuba.
Sedangkan Trump berada di posisi sebaliknya, dan banyak analis yang menyebut bahwa kemungkinan kebijakan Trump atas Kuba adalah menjungkirbalikan langkah Obama selama ini untuk perbaikan hubungan dengan Kuba.
[mel]
BERITA TERKAIT: