Hal itu terjadi karena para migran berupaya mencapai Amerika Serikat sebelum Trump menduduki jabatannya akhir Januari mendatang.
Selama masa klampanye, Trump diketahui lantang menyuarakan penentangan atas keberadaan migran ilegal di Amerika Serikat. Ia kerap menyebut akan membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko.
Ia juga berencana untuk mendeportasi migran-migran yang tinggal secara ilegal di Amerika Serikat.
Selama tahun fiskal 2016, Amerika Serikat telah menahan hampir 410.000 orang di sepanjang perbatasan barat daya dengan Meksiko, sekitar seperempat dari tahun sebelumnya. Sebagian besar dari mereka berasal dari Guatemala, El Salvador dan Honduras.
Sejak kemenangan Trump, jumlah orang yang berbondong-bondong masuk ke Amerika Serikat dari Amerika Tengah semakin melonjak.
"Kami khawatir karena kami melihat kenaikan arus migran," kata Maria Andrea Matamoros, Wakil Menteri Luar Negeri Honduras.
Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Guatemala Carlos Raul Morales.
"Mereka meninggalkan hutan dan mengambil harta mereka sebagai pembayaran untuk perjalanan," jelasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: