Lavrov: Rasa Permusuhan Meningkat, AS Mengancam Keamanan Rusia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/aldi-gultom-1'>ALDI GULTOM</a>
LAPORAN: ALDI GULTOM
  • Senin, 10 Oktober 2016, 04:18 WIB
Lavrov: Rasa Permusuhan Meningkat, AS Mengancam Keamanan Rusia
John Kerry (kiri) - Sergei Lavrov (kanan)/net
Kecil Besar
rmol news logo Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengungkapkan bahwa pihaknya menangkap sinyal peningkatan rasa permusuhan dari Amerika Serikat terhadap pemerintahan negaranya.
HUT RMOL news

Ia juga mengeluhkan soal serangkaian langkah-langkah AS yang agresif dan mengancam keamanan nasional Rusia.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah pada Minggu (9/10), Lavrov menyalahkan pemerintahan Obama untuk penurunan tajam dalam hubungan AS-Rusia.

"Kami telah menyaksikan perubahan mendasar dari keadaan ketika Russophobia (sentimen anti-Rusia) agresif sekarang terletak di jantung kebijakan AS terhadap Rusia," ujar Lavrov. seperti diberitakan Reuters.

Dia menegaskan pula bahwa "Russophobia" yang dimaksudnya bukan retorika, melainkan langkah-langkah agresif yang benar-benar menyakiti kepentingan nasional dan menimbulkan ancaman bagi keamanan Rusia.

Ia menjabarkan isu-isu yang memicu itu, dari perang Suriah sampai konflik Ukraina. Menurutnya, dalam semua hal itu AS membangun suasana ketidakpercayaan yang dalam beberapa hal lebih berbahaya dari suasana Perang Dingin .

Dia mengeluhkan manuver NATO yang terus memobilisasi infrastruktur militernya ke dekat ke perbatasan Rusia dan mengecam sanksi-sanksi Barat yang diberlakukan atas peran Moskow terkait krisis Ukraina.

Baru-baru ini, Rusia membatasi kerjasama dengan Amerika Serikat di bidang energi nuklir, seperti menangguhkan perjanjian penelitian dan konversi uranium.

Kremlin menyebut bahwa langkah tersebut diambil sebagai respon atas sanksi yang dikenakan oleh Amerika Serikat kepada Rusia terkait dengan Ukraina.

Mengomentari itu, Lavrov mengatakan bahwa kedua negara memiliki hak untuk keluar dari perjanjian nuklir itu jika ada perubahan mendasar terkait hubungan bilateral mereka.

"Perjanjian itu berlalu ketika terjadi hubungan yang normal, beradab, ketika tidak ada pihak berusaha ikut campur dalam urusan internal pihak lain," kata Lavrov. [ald]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA