Pasalnya, sejumlah masalah bermunculan, seperti obat-obatan yang didistribusikan kurang memberikan efek, jumlah infeksi yang meningkat, serta turunnya jumlah pendanaan.
Para ahli memperingatkan bahwa masalah-masalah tersebut menghalangi prospek pemberantasan epidemi, terutama di kawasan Afrika.
Padahal PBB telah mencanangkan target untuk mengakhiri AIDS di Afrika pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, PBB didukung oleh donor dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Namun kenyataanya di lapangan tidak sejalan dengan target. Banyak ahli percaya bahwa epidemi akan terus menyebar dan korban tewas akibat AIDS masih mencapai 1,5 juta orang per tahun.
"Saya tidak percaya slogan 'akhir Aids pada tahun 2030' merupakan hal yang realistis, justru malah kontraproduktif. Aids masih salah satu pembunuh terbesar di dunia," kata Prof Peter Piot, direktur eksekutif UNAIDS dan direktur London School of Hygiene dan Tropical Medicine.
Dikabarkan
The Guardian, data terbaru menunjukkan bahwa setiap tahunnya di seluruh dunia, hampir 2 juta orang, sekitar 60 persen di antaranya adalah gadis remaja menjadi pengidap baru AIDS.
Sedangkan, negara donor setiap tahunnya memangkas anggaran untuk AIDS.
[mel]
BERITA TERKAIT: