Hal itu terungkap dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Kantor PBB terkait Pengawasan Pelayanan Internal (OIOS) pada Selasa (9/6).
Dalam laporan itu ditemukan ada semacam transaksi seksual di mana perempuan dan anak gadis dipaksa melakukan hubungan seksual dengam pasukan penjaga perdamaian PBB dengan sejumlah imbalan.
Sepertiga dari dugaan transaksi seks itu dilakukan oleh Misi Stabilisasi PBB di Haiti (MINUSTAH). Kasus tersebut tidak sedikit melibatkan anak-anak perempuan di bawah usia 18 tahun.
Laporan itu sendiri muncul setelah OIOS melakukan wawancara dengan 231 perempuan di Haiti. Mereka mengaku telah dipaksa untuk melakukan tindakan seksual dengan pasukan penjaga perdamaian PBB dan mendapatkan imbalan kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, ponsel, laptop, sepatu, parfum, dan uang.
"Untuk perempuan pedesaan, kelaparan, kekurangan tempat tinggal, kebutuhan perawatan bayi, obat-obatan dan barang-barang rumah tangga sering menjadi pemicu transaksi semcam itu terjadi," kata laporan tersebut seperti dimuat
Press TV.
Laporan itu lebih lanjut memuat bahwa eksploitasi seksual dilakukan oleh sekitar 125 ribu pasukan penjaga perdamaian PBB di seluruh dunia masih belum diungkap dalam misi semacam itu. Hal itu menunjukkan bahwa kasus transaksi seksual semcam itu di Haiti bisa jadi lebih besar.
Di Haiti sendiri, misi perdamaian PBB dimulai pada tahun 2004 lalu dengan melibatkan sekitar 7 ribu pasukan penjaga perdamaian. Namun demikian, dalam laporan tidak disebutkan soal berapa banyak pasukan PBB yang diduga terlibat dalam transaksi seksual tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: