Serangan yang disusul dengan aksi pengepungan dan penyanderaan selama tiga jam di salah satu destinasi wisata terkemuka di negara itu menyedot perhatian. Pasalnya, pada saat kejadian, museum tengah dipadati oleh pengunjung baik lokal maupun asing.
Menurut keterangan dari Perdana Menteri Tunisia Habib Essid, di antara 20 orang yang tewas itu, 17 di antaranya merupakan warga negara asing yang terdiri dari lima warga Jepang, empat warga Italia, dua warga Kolombia, dua warga Spanyol, satu warga Australia, satu warga Polandia, dan satu warga Perancis. Sedangkan seorang lagi tidak dirilis kewarganegaraanya.
Selain itu, kata Essid 44 orang lainnya mengalami luka-luka. Di antaranya adalah 13 warga Italia, tujuh warga Perancis, empat warga Jepang, dua warga Afrika Selatan, satu warga Rusia, dan enam warga Tunisia.
Essid sendiri mengecam insiden itu dan menyebut bahwa merupakan serangan itu dilakukan oleh pengecut yang menargetkan perekonomian Tunisia.
Kecaman senada juga dilontarkan oleh Presiden Tunisia yang baru terpilih, Beji Caid Essebsi dalam pernyataanya Rabu malam.
"Saya ingin warga Tunisia memahami untuk pertama dan terakhir bahwa kita berada dalam perang melawan teror dan kelompok minoritas buas tidak akan menakut-nakuti kita," sebutnya seperti dimuat
The Guardian.
"Perang melawan mereka akan berlanjut sampai mereka dibasmi," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: