Begitu hasil jajak pendapat yang dilakukan sebelum Australia memberlakukan langkah besar-besaran melawan terorisme pada September 2014 lalu.
Jajak pendapat itu melibatkan 800 umat Muslim baik pria maupun wanita dari beragam usia, latar belakang, termasuk yang berasal dari Pakistan, Suriah, Indonesia dan Afrika Selatan. Dalam jajak pendapat tersebut ditemukan bahwa hampir 75 persen responden merasa bahwa langkah anti terorisme yang dilakukan oleh Australia menargetkan mereka sebagai Muslim.
Hampir dari setengah responden mengaku bahwa mereka sengaja mengubah cara berpakaian agar tidak dicurigai atau diperiksa dari tuduhan-tuduhan. Bukan hanya itu, sebagian dari mereka juga menghindari untuk datang ke masjid tertentu dan mempersiapkan perjalanan dengan baik agar tidak dicurigai.
Sementara itu, masih dalam survei yang sama, kurang dari sepertiga responden mengaku bahwa mereka percaya media telah memperlakukan Muslim secara adil.
Terkait terorisme itu sendiri, sekitar sembilan dari sepuluh responden mengaku bahwa mereka setuju bahwa kelompok terorisme yang saat ini berkembang justru mendistrosi makna sebenarnya dari Islam.
Sedangkan hampir 60 persen Muslim Australia menolak gagasan soal penggunaan kekerasan dalam jihad.
Seperti dimuat
The Guardian (Senin, 16/3), penelitian itu sendiri dilakukan oleh sejumlah peneliti ternama, termasuk kriminolog asal University of Queensland Adrian Cherney.
Dalam kesimpulan laporan tersebut, para peneliti menyebut bahwa bahwa polisi dan penegak kebijakan, terutama di Sydney, perlu berbuat lebih banyak untuk membangun kepercayaan dan kesediaan untuk bekerja sama dengan komunitas Muslim.
[mel]
BERITA TERKAIT: