Studi: Reunifikasi Dua Korea Picu Lonjakan Migrasi dan Pengangguran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 05 Desember 2014, 21:04 WIB
Studi: Reunifikasi Dua Korea Picu Lonjakan Migrasi dan Pengangguran
ilustrasi/net
rmol news logo Upaya penyatuan atau dikenal dengan istilah reunifikasi dua negara di Semenanjung Korea diperkirakan bisa memicu terjadinya lonjakan migrasi dan pengangguran.

Menurut studi yang dilakukan oleh Institut Kebijakan Ekonomi Internasional bersama dengan Institut Penelitian Ekonomi Halle Jerman ditemukan bahwa tingkat migrasi warga Korea Utara ke Korea Selatan akibat reunifikasi bisa melonjak hingga sekitar 1,8 juta jiwa.

Dalam sebuah seminar di Seoul pada Kamis (4/12), salah seorang peneliti yang melakukan studi tersebut, Kim Bo-min menyebut, studi yang dilakukan pihaknya menemukan bahwa sekitar 7,3 hingga 7,6 dari total penduduk Korea Utara akan bermigrasi ke Korea Selatan akibat reunifikasi.

Alasan dilibatkannya institut dari Jerman dalam penelitian itu adalah karena Jerman juga pernah melakukan reunifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada saat itu sekitar 2,5 persen penduduk Jerman Timur atau sebanyak 16 juta orang berpindah ke Jerman Barat paska reunifikasi. Jumlah tersebut berkurang dua tahun pasca reunifikasi.

Kemungkinan pergerakan migrasi dari Korea Utara akan memiliki bentuk yang hampir serupa dengan peristiwa reunifikasi Jerman.

Bukan hanya itu, studi yang sama juga menemukan bahwa reunifikasi bisa memicu kemungkinan pekerja di Korea Utara kehilangan pekerjaan. Hal itu bisa meningkatkan jumlah pengangguran antara 30 hingga 50 persen.

Karena itu Kim menyarankan, pemerintah dan pemangku kepentingan harus lebih memperhatikan untuk membentuk pelatihan-pelatihan kerja dan kebijakan pekerja yang proaktif, seperti yang telah dilakukan oleh Jerman.

Selain itu, seperti dikabarkan Chosun Ilbo dan dilansir Koreakini, bantuan ke Korea Utara juga harusnya dilakukan agar menjaga ekonomi Korea Utara tetap pada jalurnya ketimbang hanya menunggu masa ketika sistem kapitalis mengambil alih reunifikasi. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA