Islamophobia di Belgia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 03 Desember 2014, 00:06 WIB
Islamophobia di Belgia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir
ilustrasi/net
rmol news logo . Islamophobia di negara-negara Eropa masih tersebar bahkan cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir. Secara sederhana, Islamophobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan penganutnya.

Demikian disampaikan pendiri Collective Centre Islamophobia in Belgium, Laurie Hastir saat diskusi di kantor CCDC, Menteng, Jakarta, Selasa (2/12). Hadir pula Ketua MUI yang juga Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin dan jajaran pengurus Muhammadiyah.

"Penganut agama Islam, apalagi wanita masih mendapat perilaku diskriminasi baik di tempat kerja maupun tempat publik," kata Laurie.

Ia pun membeberkan salah satu kasus anti Islam yang sudah diteliti lembaganya di negara Belgia. Untuk diketahui, jumlah populasi muslim Belgia pada tahun sudah mencapai 6 persen dari total jumlah penduduk Belgia atau sekitar 624 ribu muslim.

"Tapi isu yang beredar di Belgia polpulasi muslim dikatakan sudah mencapai 20 persen, isu invasi orang muslim ke Belgia pun berhembus kencang agar mereka segera mengantisipasi ledakan jumlah itu, padahal cuma 6 persen," kata Laurie.

Hal tersebut terjadi lantaran media-media di Belgia dan juga negara Eropa lain masih sering memberitakan buruknya wajah Islam, bahkan cenderung provokatif dan fitnah. Tak hanya itu, partai-partai politik di negara Eropa banyak menggunakan isu anti Islam untuk menaikkan polpularitas mereka merebut hati konstituen.

Dampaknya kata Laurie, banyak wanita muslimah yang tiba-tiba diserang ketika sedang berjalan akibat berkerudung. Di Belgia dan bagian negara Eropa lainnya juga banyak wanita muslimah yang sulit mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak karena menggunakan kerudung.

"Aksi menolak Islam sering dilakukan di Belgia. Bahkan dalam dua tahun terakhir kasus diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan pada muslim meningkat 20 persen," sebutnya.

Laurie pun membeberkan kerapkali warga penganut Islam yang ditolak lamaran kerjanya karena alasan agama Islam atau memiliki nama Islam. Warga penganut Islam pun tak dibolehkan untuk bekerja yang berhubungan dengan publik (pelayanan publik) dan hanya boleh bekerja di tempat yang sifatnya tertutup.

"Kita juga banyak menemukan kasus wanita yang berkerudung dilarang masuk rumah makan, padahal kita punya uang," terangnya.

Laurie berkesimpulan walau negara-negara di Eropa dikatakan punya sistem politik dan hukum yang maju, tapi masih banyak melakukan diskriminasi terhadap orang Islam. Makanya saat ini lembaganya sering mengadakan seminar, audiensi dengan lembaga pemerintah dan hukum di Eropa dan melakukan sosilaisasi di media sosial soal Islam yang berwajah damai.

"Indonesia adalah salah satu negara yang kita kagumi toleransi dan kerukunan sesama agamanya," demikian Laurie. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA