"Kami, yang bertanda tangan, komandan IDF cadangan dan pensiunan polisi yang telah berjuang dalam kampanye militer Israel, tahu secara langsung soal harga menyakitkan yang harus dibayar atas perang," isi surat itu dikutip
Russia Today.
"Di sini kita kembali mengirimkan anak-anak kita keluar ke medan perang, menyaksikan mereka mengenakan seragam dan rompi tempur untuk kemudian berperang dalam operasi perlindungan," sambung isi surat yang dibacakan itu.
Sebagian di antara mereka yang menandatangani Surat itu menyebut, Israel memiliki kekuatan dan sarana untuk membuat kedua negara keluar dari krisis yang ada saat ini. Namun belum dicapainya perjanjian damai kedua negara terjadi karena lemahnya kepemimpinan Israel.
"Saya tidak ragu bahwa perdana menteri mencari kesejahteraan Israel, tapi saya pikir dia menderita semacam kebutaan politik yang mendorong dia untuk menakut-nakuti dirinya dan kami," kata Mayor Jenderal Eyal Ben-Reuven.
Ide untuk menulis surat itu digagas oleh Mayjen Amnon Reshef. Ia mengaku lelah atas realitas putaran konflik yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir antara kedua negara.
Ia mendorong agar Israel kembali pada rencana perdamaian Arab yang diadopsi pada tahun 2002. Rencana itu menawarkan perdamaian penuh untuk negara-negara Arab dan Israel. Tel Aviv, pada gilirannya, perlu untuk menarik diri ke perbatasan berdasarkan garis gencatan senjata pra-1967.
[mel]
BERITA TERKAIT: