Musim dingin Januari 1992, di kota kecil Davos yang berselimut salju. Dua pria yang selama puluhan tahun menjadi simbol permusuhan rasial Afrika Selatan duduk dalam satu forum yang sama.
Nelson Mandela dan F.W. de Klerk berbicara di hadapan dunia. Tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani hari itu. Tidak ada deklarasi besar. Namun dunia berubah.
Dari pertemuan itu, apartheid kehilangan legitimasi moral globalnya. Davos tidak menjatuhkan rezim. Tetapi ia menciptakan ruang di mana perubahan menjadi mungkin.
Sejak itulah saya memahami: ada pertemuan yang tidak melahirkan kebijakan, tetapi menggeser sejarah.
Sudah lama saya berniat hadir di World Economic Forum. Bukan karena gemerlapnya, melainkan karena kesunyiannya.
Karena di sanalah, di kota pegunungan yang jauh dari pusat kekuasaan formal, dunia sering memikirkan ulang dirinya sendiri.
Baru pada tahun 2026, akhirnya saya hadir di sana, selaku Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi.
Datang bukan sekadar sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari percakapan global tentang energi, masa depan, dan tanggung jawab sebuah bangsa.
World Economic Forum lahir pada tahun 1971, di tengah dunia yang sedang gelisah. Perang Dingin membelah bumi. Kapitalisme dan sosialisme saling mencurigai.
Eropa menghadapi krisis daya saing. Dunia bisnis bergerak cepat, sementara institusi publik tertatih mengikuti perubahan.
Forum ini lahir dari satu keyakinan sederhana namun radikal: persoalan global tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, pasar saja, atau aktivisme saja. Dunia membutuhkan ruang bersama.
Mengapa forum ini bertahan lebih dari lima dekade?
Karena ia menjawab tiga kebutuhan mendasar peradaban modern.
Pertama, ruang dialog lintas batas. Davos mempertemukan pemerintah, pelaku bisnis, dan civil society dalam satu meja. Bukan untuk berdebat demi menang, melainkan untuk saling memahami sebelum terlambat.
Kedua, ketiadaan tekanan keputusan formal. Tidak ada voting. Tidak ada resolusi mengikat. Justru karena itulah kejujuran muncul. Di Davos, orang berbicara tentang risiko sebelum ia menjelma menjadi bencana.
Ketiga, kemampuan membaca arah zaman lebih awal. Banyak ide besar dunia tidak lahir sebagai kebijakan negara, tetapi sebagai percakapan awal di Davos, jauh sebelum dunia siap menerimanya.
Dua buku yang ditulis oleh pendiri World Economic Forum membantu menjelaskan dasar intelektual pertemuan dunia ini.
Dalam Stakeholder Capitalism (2021), Klaus Schwab mengajukan kritik mendasar terhadap kapitalisme modern yang terlalu sempit memuja laba dan nilai pemegang saham.
Ia menegaskan bahwa dunia yang saling terhubung, rapuh oleh krisis iklim, pandemi, dan ketimpangan, tidak lagi bisa dikelola dengan logika lama.
Schwab menawarkan stakeholder capitalism sebagai kerangka baru. Perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemilik modal, tetapi juga kepada pekerja, komunitas, negara, dan planet.
Nilai ekonomi harus berjalan seiring nilai sosial dan keberlanjutan.
Buku ini menjelaskan mengapa forum seperti Davos dibutuhkan. Bukan sebagai ruang elit tertutup, tetapi sebagai arena dialog lintas sektor, tempat kepentingan negara, bisnis, dan civil society dinegosiasikan secara terbuka.
Dalam dunia yang kehilangan kepercayaan pada institusi, Schwab melihat dialog sebagai bentuk kepemimpinan baru. Kapitalisme, baginya, hanya akan bertahan jika ia mendapatkan kembali legitimasi moralnya.
Dalam buku lain, The Fourth Industrial Revolution (2016), Klaus Schwab memperkenalkan sebuah fase ketika kecerdasan buatan, big data, robotika, dan bioteknologi menyatu dan mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia.
Schwab tidak melihat teknologi sekadar sebagai alat, melainkan sebagai kekuatan yang membentuk ulang ekonomi, politik, dan bahkan identitas manusia.
Ia memperingatkan bahwa revolusi ini membawa peluang besar, tetapi juga risiko serius. Ketimpangan bisa melebar, pekerjaan bisa hilang, dan kepercayaan terhadap institusi bisa runtuh jika perubahan tidak dikelola dengan bijaksana.
Karena itu, ia menekankan pentingnya human-centered governance. Teknologi, menurut Schwab, bukan soal kecepatan inovasi semata, tetapi soal pilihan moral.
Dunia harus memutuskan: apakah teknologi akan memperkuat martabat manusia, atau justru menggerusnya.
Sejak awal berdirinya, World Economic Forum di Davos bukan sekadar konferensi. Ia adalah ruang perjumpaan langka tempat para pemimpin pemerintahan, pelaku bisnis global, dan tokoh civil society duduk sejajar.
Mereka membawa kepentingan masing-masing, namun dipaksa oleh keadaan dunia untuk saling mendengar.
Di bidang pemerintahan, Davos telah menjadi panggung bagi pemimpin yang mewakili poros kekuatan global.
Presiden Amerika Serikat seperti Donald Trump menggunakan Davos untuk menyampaikan pesan langsung tentang arah ekonomi dan perdagangan.
Dari Asia, Xi Jinping pernah berdiri di podium Davos untuk membela globalisasi ketika banyak negara justru mundur ke proteksionisme.
Sementara itu, Vladimir Putin hadir membawa perspektif Rusia tentang energi, geopolitik, dan tatanan dunia multipolar.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa Davos adalah diplomasi informal tingkat tinggi, tempat pesan strategis sering diuji sebelum menjadi kebijakan resmi.
Di sisi bisnis, Davos mempertemukan arsitek kapitalisme global. Tokoh seperti Bill Gates, Larry Fink, dan Satya Nadella datang tidak hanya membawa laporan keuangan, tetapi juga pertanyaan besar tentang masa depan teknologi, ketimpangan, dan tanggung jawab korporasi.
Di Davos, laba tidak bisa berdiri sendiri tanpa legitimasi sosial.
Namun Davos tidak akan lengkap tanpa civil society, suara nurani yang menyeimbangkan kekuasaan dan modal.
Figur seperti Nelson Mandela, Malala Yousafzai, dan Greta Thunberg mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan, pendidikan, dan keberlanjutan hanyalah kemajuan semu.
Di sinilah makna Davos menjadi jelas. Tidak semua orang sepakat, tetapi semua dipaksa hadir. Dan dalam dunia yang makin terfragmentasi, kemampuan untuk tetap duduk bersama mungkin adalah bentuk kepemimpinan tertinggi.
Selama lebih dari lima dekade, Davos menjadi cermin perubahan zaman.
Globalisasi dibahas di sini ketika masih dianggap ancaman. Perubahan iklim dibicarakan di sini ketika masih dipandang isu pinggiran.
Revolusi Industri Keempat diperkenalkan di sini ketika dunia belum memahami kecerdasan buatan.
Pandemi global, ketimpangan sosial, krisis kepercayaan pada institusi, hingga masa depan pekerjaan menjadi topik yang berulang. Bukan karena Davos gemar mengulang, melainkan karena dunia sering gagal belajar cukup cepat.
Forum ini mempertemukan tokoh-tokoh yang jarang duduk sejajar di tempat lain: presiden dan aktivis, CEO dan ilmuwan, filantropis dan jurnalis.
Mereka tidak selalu sepakat. Namun dari ketidaksepakatan itulah, dunia menemukan bahasa baru untuk menghadapi masalah lama.
Isu energi selalu menjadi jantung Davos. Karena energi bukan sekadar komoditas. Ia adalah darah peradaban.
Minyak pernah dibicarakan sebagai sumber pertumbuhan. Lalu sebagai sumber konflik. Kini, ia dibicarakan sebagai paradoks: masih dibutuhkan, tetapi harus diubah perannya.
Di Davos, pertanyaan tentang energi tidak lagi berhenti pada harga atau pasokan. Ia bergerak ke pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana menyeimbangkan ketahanan energi, keadilan sosial, dan tanggung jawab iklim.
Davos juga perlu lebih banyak mendengar tentang desa-desa yang menyalakan listrik dari panas bumi, tentang nelayan yang memahami ombak lebih dulu daripada algoritma, tentang bangsa yang belajar menyeimbangkan kemajuan dan kearifan.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pertanyaan ini bukan akademik. Ia eksistensial. Kita tidak bisa mematikan minyak secara tiba-tiba tanpa mematikan ekonomi rakyat. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata terhadap luka bumi.
Kini, era kecerdasan buatan menambahkan lapisan baru. AI mengubah cara kita menemukan cadangan energi, mengoptimalkan produksi, menekan emisi, dan membaca risiko. Namun AI juga menuntut energi dalam jumlah besar.
Dunia menghadapi paradoks baru: teknologi yang membantu transisi hijau justru meningkatkan kebutuhan energi.
Pertanyaan moralnya jelas: apakah kita akan menggunakan kecerdasan buatan untuk mempercepat kebijaksanaan, atau hanya mempercepat eksploitasi?
Bagi Indonesia, Davos adalah ruang belajar. Di sanalah kita menguji apakah narasi kita tentang ketahanan energi masuk akal bagi dunia.
Apakah strategi kita dapat dipercaya. Apakah kita cukup jujur tentang tantangan kita sendiri.
Davos mengajarkan bahwa kepercayaan global tidak dibangun dari slogan, melainkan dari konsistensi. Dari keberanian mengakui keterbatasan, sekaligus kesungguhan memperbaikinya.
Sebagai bangsa besar, jika Indonesia belum mampu menjadi penentu arah dunia, setidaknya kita menjadi mitra yang dewasa. Mitra yang tahu kapan berbicara, kapan mendengar, dan kapan bertindak.
Davos bukan tempat semua jawaban ditemukan. Tetapi ia adalah tempat pertanyaan yang tepat diajukan.
Di dunia yang semakin bising, World Economic Forum mengingatkan satu hal penting: masa depan tidak ditentukan oleh mereka yang paling keras berbicara, melainkan oleh mereka yang berani duduk bersama, mendengar, dan berpikir melampaui kepentingan sesaat.
Saya datang ke Davos dengan keyakinan yang lebih tenang: perubahan besar tidak selalu lahir dari revolusi. Kadang ia lahir dari pertemuan kecil, di kota bersalju, ketika dunia memilih untuk berbicara sebelum terlambat.
Dan selama dunia masih mau berbicara bersama, kita masih optimis untuk berharap.
Menuju Davos, 16 Januari 2026.
BERITA TERKAIT: