Begitu bunyi laporan badan PBB yang menangani masalah anak-anak UNICEF seperti dikabarkan
BBC (Selasa, 21/10).
Dalam laporan berjudul "Children in Danger: Act to End Violence against Children" itu disebutkan bahwa sebagian besar anak-anak yang tewas akibat mengalami kekerasan berada di luar zona perang.
Disebutkan bahwa saat ini terdapat jutaan anak-anak di bawah usia 20 tahun yang tidak merasa aman bahkan ketika berada di rumah, sekolah, ataupun masyarakatnya. Mereka mengalami tindak kekerasan dari pihak-pihak yang seharusnya melindungi.
Sejumlah penyebab tingginya tingkat kekerasan anak itu, kata UNICEF, antara lain adalah pertumbuhan urbanisasi yang cepat, pengangguran muda, dan meningkatnya kesenjangan sosial.
UNICEF memperingatkan, ada sekitar 345 anak di bawah usia 20 tahun yang bisa saja tewas setiap hari sepanjang tahun depan bila pemerintah seluruh dunia tidak mengambil tindakan tegas.
Laporan itu menyebutkan, anak-anak yang menjadi korban kekerasan mememiliki aktivitas otak serupa dengan tentara yang memiliki pengalam buruk dengan medan perang. Sekitar 30 persen anak-anak yang mengalami tindak kekerasan akan mengalami gejala gangguan pasca trauma dalam jangka panjang.
"Kita ingin agar anak-anak yang hidup dalam ketakukan memiliki kesempatan untuk merasakan aman dan nyaman," kata eksekutif direktur UNICEF Inggris David Bull.
"Sebuah target global akan menggembleng tindakan untuk membuat dunia lebih aman untuk anak-anak," sambungnya sambil menambahkan bahwa UNICEF memiliki target untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak pada tahun 2030 mendatang.
[mel]
BERITA TERKAIT: