Demi meredam bentrokan, pemerintah sementara Libya mempertimbangkan untuk meminta bantuan militer internasional. Hal itu akan dibahas dalam sidang darurat.
Bantuan militer internasional juga diharapkan mampu memberikan kesempatan untuk membangun pasukan tentara dan kepolisian yang sesuai di negara yang belum stabil sejak tergulingnya pemimpin Moamar Ghadafi tahun 2011 lalu.
Namun, dikabarkan
CNN, pemerintah Libya sendiri tidak memiliki kontrol yang kuat untuk meredam aksi para kelompok militan itu. Pasalnya, banyak kelompok bersenjata yang terlibat dalam bentrokan digaji oleh negara. Keadaan tersebut semakin mempersulit situasi.
Pemerintah sendiri hari ini telah menyerukan agar bentrokan segera dihentikan dan semua milisi menarik diri dalam kurun waktu satu minggu. Komandan militer Libya menyebut, setiap serangan terhadap fasilitas sipil termasuk bandara itu sendiri akan dijerat dengan tuduhan pembunuhan.
Akibat bentrokan, pemerintah menyebut gedung bea cukai, gedung pemeliharaan, dan sejumlah pesawat milik departemen keamanan nasional telah hancur.
Bukan hanya itu, setidaknya 90 persen pesawat yang tengah terparkir di bandara juga rusak akibat ulah para militan,
Bentrokan yang telah terjadi sejak akhir pekan lalu itu juga menyebabkan sejumlah jadwal penerbangan ditangguhkan atau dialihkan.
Khawatir akan keadaan yang semakin memanas di Libya, PBB bahkan mengevakuasi sementara sebagian stafnya yang bertugas di Libya.
Untuk diketahui, kelompok militan brigade dari milisi Zintan telah menguasai bandara sejak perang sipil Libya pada tahun 2011. Sejak saat itu, kelompok milisi lain kerap mencoba merebut kendali bandara dari brigade Zintan.
Kendati Libya berhasil menggulingkan kekuasaan 42 tahun Moammar Gadhafi pada tahun 2011, namun negara tersebut belum juga stabil. Tantangan terbesar untuk membagun stabilitas dan demokrasi di Libya adalah banyaknya milisi kelompok milisi bersenjata.
[mel]
BERITA TERKAIT: