"Saya ingin mengingatkan Israel bahwa operasi darat dapat menyebabkan perkembangan yang berbahaya serta menabur benih kebencian," kata Presiden Abdullah usai menjalankan shalat Jumat siang tadi (11/7).
Ketegangan hubungan kedua negara yang semakin memanas pekan ini dinilainya dapat memberikan ancaman dan kekacauan di Turki.
Diketahui meningkatnya kekerasan antara Israel dan kelompok militan Hamas Palestina di Jalur Gaza terjadi bersamaan dengan upaya yang tengah dilakukan Turki untuk memperbaiki hubungan dengan Israel pasca komando Israel menyerbu kapal bantuan pro-Palestina pada tahun 2010 lalu yang menewaskan delapan warga Turki.
Atas kejadian tersebut, dikabarkan
Associated Press, Israel menyampaikan permintaan maaf kepada Turki dan setuju memberikan kompensasi dalam sebuah perjanjian pada tahun 2013. Hal itu mengarah pada pemulihan hubungan dua negara.
Senada dengan Presiden, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan pada Kamis (10/7) menyampaikan bahwa Turki tidak ingin memperbaiki hubungan dengan Israel bila serangan masih dilakukan ke wilayah Gaza.
"Anda harus mengakhiri penindasan ini. Selama itu tidak berakhir, sebuah normalisasi hubungan antara Turki dan Israel tidak mungkin terjadi," tegasnya.
Diketahui, militer Israel telah melakukan lebih dari 1.000 serangan ke Gaza dalam empat hari pertempuran yang telah menewaskan sedikitnya 100 orang.
[mel]
BERITA TERKAIT: