Pemerintah menyebut, langkah yang dihasilkan dari perjanjian dengan pemberontak itu mengakhiri krisis minyak di negara tersebut.
"Kita telah sukses mencapai kesepakatan untuk mengakhiri krisis minyak," kata Perdana Menteri Libya Abdullah al-Thani pada Rabu (2/7).
Diketahui, kelompok pemberontak sebelumnya menduduki empat terminal minyak dalam upaya menuntut otonomi lebih bagi kelompoknya. Sejak saat itu, ekspor minyak Libya menjadi terganggu akibat blokade produksi minyak mentah di terminal-terminal tersebut.
Sebelum blokade, kapasitas minyak mentah Libya bisa sekitar 1,5 juta barel per hari.
Namun kemudian kelompok pemberontak mengembalikan dua terminal tersebut kepada pemerintah pada April lalu melalui sebuah perjanjian bersama.
Dikabarkan
BBC, total kapasitas produksi minyak mentah di kedua terminal tersebut sekitar 500 ribu barel per hari.
Libya merupakan negara yang masih berupaya stabil sejak penggulingan penguasa lama Moammar Gaddafi pada Oktober 2011 lalu. Pemerintah berupaya untuk bisa memiliki kontrol penuh di seluruh wilayah negara tersebut di tengah aksi kelompok pemberontak.
[mel]
BERITA TERKAIT: