Jumlah tersebut meningkat enam juta lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan menjadikan tahun 2013 sebagai tahun dengan tingkat pengungsi tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Peningkatan jumlah pengungsi tersebut, terutama disebabkan oleh konflik yang terjadi di Suriah, Afrika Tengah, dan Sudan Selatan.
Pemipinan UNHCR, Antonio Guterres menyatakan kepada BBC (Jumat, 20/6) bahwa kenaikan tersebut merupakan tantangan yang dramatis.
"Konflik mengalikan, lebih dan lebih. Pada saat yang sama konflik sebelumnya tampaknya tidak pernah mati," kata Guterres.
Dari keseluruhan jumlah pengungsi tersebut, 6.3 juta di antaranya dikhawatirkan telah menjadi pengungsi selama bertahun-tahun bahkan mencapai puluhan tahun. Di antara 6.3 juta tersebut, 2.5 juta diperkirakan berasal dari Afganistan dan 1.6 juta dari Pakistan.
Salah satu negara penyumbang pengungsi terbesar tahun 2013 adalah Suriah. Diperkirakan ada sekitar 6.5 juta orang mengungsi akibat konflik internal. Mereka kekurangan akses makanan, air, tempat tinggal, serta perawatan medis. Selain itu, mereka terperangkap dalam zona konflik di mana bantuan kemanusiaan sulit masuk. Karena itulah mereka terpaksa meninggalkan rumah untuk mencari perlindungan di negara lain sebagai pengungsi.
Sebagian besar pengungsi Suriah melarikan diri ke Lebanon, Yordania dan Turki.
Melihat peningkatan jumlah pengungsi tersebut PBB khawatir negara penampung pengungsi akan mengalami beban sumber daya dan bahkan mengganggu kestabilan negara. Pasalnya, 86 persen pengungsi di dunia mencari perlindungan ke negara berkembang. Sedangkan negara maju hanya menampung 14 persen pengungsi di dunia.
Presentase tersebut mengalami perubahan sejak sepuluh tahun lalu, di mana pada saat itu negara maju menampung 30 persen pengungsi sedangkan negara berkembang menampung 70 persen.
[mel]
BERITA TERKAIT: