Peneliti dari the Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) melakukan pengembangan dalam rancangan empat tahun untuk membangun sebuah stimulator canggih untuk memahami otak manusia dan melakukan implan yang dapat membantu mengembalikan memori seseorang yang hilang akibat penyakit ataupun trauma pasca perang.
DARPA menyebut bahwa pengemabangan tersebut dapat membantu banyak orang, seperti lima juta orang AS yang mengidap penyakit lupa atau Alzheimer serta membantu hampir 300 ribu militer AS yang mengalami cedera otak tarumatis pasca bertugas di Irak dan Afganistan.
"Bila anda terluka karena tanggung jawab dan anda tidak dapat mengingat keluarga anda, kami akan dapat mengembalikan fungsi tersebut," kata manajer program DARPA Justin Sanchez dalam konferensi pers yang digelar oleh Pusat Kesehatan Otak di University of Texas seperti dilansir
AFP (Kamis, 1/4).
"Kami pikir kami dapat membangun perangkat neuroprosthetic yang dapat secara langsung mengembalikan tipe pertama memori yang kita lihat dan memori deklaratif," lanjutnya.
Memori deklaratif yang dimaksud merupakan ingatan seseorang atas peristiwa, fakta dan angka.
Dalam situs resminya, DARPA menyebut bahwa pembangunan program itu dilakukan demi ilmu pengetahuan. Lembaga itu juga secara berkala membahas masalah etika, hukum, dan sosial terkait pengembangan tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: