Diketahui bahwa lebih dari tujuh juta warga Afganistan memberikan suaranya pada pemilu Sabtu lalu.
Pemilu tersebut sekaligus menandai perpindahan kekuasaan secara demokratis yang baru pertama kali terjadi di Afganistan.
Perhitungan suara untuk mengetahui siapa pemenang pemilu diperkirakan akan memakan waktu hingga satu minggu ke depan. Bila tidak ada satupun dari delapan kandidat yang bertarung dalam pemilu itu yang mendapatkan lebih dari 50% suara, maka akan digelar kembali pemilu putaran kedua.
Seperti dikabarkan
BBC pada Minggu (6/4), mayoritas warga Afganistan mengaku bahwa negara mereka telah menang dengan menyelenggarakan pemungutan suara yang relatif damai, sekalipun diliputi oleh ancaman Taliban serta adanya dugaan penyimpangan pemilu.
Juru bicara komisi pengaduan pemilu Afganistan, Nadir Mohsini pada Minggu pagi (6/4) mengaku pihaknya telah menerima lebih dari 1.200 pengaduan terkait pelaksanaan pemilu.
"Keluhan meliputi telatnya pembukaan tempat pemungutan suara, kekurangan surat suara, upaya mendorong pemilih untuk memilih kandidat (tertentu) dan penganiayaan terhadap beberapa pejabat pemilu tertentu," jelas Mohsini.
Sejumlah pengamat politik Afganistan menyebut bahwa sekalipun ada delapan kandidat yang bertarung dalam pemilu, namun hanya ada tiga kandidat utama yang berpotensi memenangkan pemilu, yakni dua mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah dan Zalmai Rassoul serta mantan Menteri Keuangan Ashraf Ghani Ahmadzai.
[mel]
BERITA TERKAIT: