Oposisi Suriah Ancam Boikot Pembicaraan Damai Gara-gara Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 20 Januari 2014, 16:18 WIB
Oposisi Suriah Ancam Boikot Pembicaraan Damai Gara-gara Iran
rmol news logo Kelompok oposisi Suriah yang tergabung dalam Koalisi Nasional mengancam akan menarik diri dari keikutsertaan dalam pembicaraan damai Suriah bila Perserikatan Bangsa Bangsa tidak membatalkan keikutsertaan Iran.

Koalisi Nasional mengancam akan memboikot pembicaraan damai yang juga dijuluki dengan istilah Jenewa II itu kurang dari 48 jam setelah adanya isyarat atas persetujuan dan partisipasi Iran dalam pembicaraan damai Suriah yang akan digelar pada 22 Januari mendatang di Montreux Swiss.

"Koalisi Suriah mengumumkan akan menarik kehadiran di Jenewa II kecuali Ban Ki-mon menarik undangannya kepada Iran," kata jurubicara Koalisi Nasional Louay Safi melalui akun twitternya.

Sebelumnya, Iran tidak termasuk ke dalam daftar negara-negara yang diundang untuk berpartisipasi dalam perjanjian damai di Swiss tersebut. Pasalnya kelompok oposisi Suriah dan Amerika Serikat menuduh Iran telah memberikan dukungan kepada rezim pemerintahan Assad dengan mengirimkan tenaga bantuan serta persenjataan selama konflik yang berlangsung di Suriah.

Namun Ban Ki-moon dan utusan khusus PBB di Suriah menegaskan bahwa mereka telah lama mendorong keterlibatan Iran dalam pembicaraan damai Suriah.

Amerika Serikat kemudian menyetujui adanya partisipasi Iran dalam pembicaraan hanya jika Iran secara eksplisit menyatakan dukungannya terhadap rencana Jenewa kominike Juni 2012 mengenai pembentuknya transisi politik di Suriah yang berpotensi menyingkirkan Assad dari kursi kepemimpinan di Suriah.

"Ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan Iran secara terbuka dan sesuatu yang lama dibuat dan diperlukan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki melalu pernyataannya seperti dikabarkan al Jazeera.

"Jika Iran tidak sepenuhnya dan secara terbuka menerima perjanjian Jenewa, undangan  harus dibatalkan," jelasnya.

Sebelumnya di awal tahun, Amerika Serikat menyebut bahwa Iran bisa memainkan peran sampingan dari pembicaraan damai Suriah, namun Iran menolak karena hal tersebut sama dengan merendahkan martabat Iran.

Negara-negara Barat dan Negara-negara Arab telah menolak gagasan mengenai partisipasi Iran dalam pembicaraan karena Iran tidak pernah menyatakan dukungannya dalam membentuk pemerintahan transisi di Suriah.

Sekalipun demikian, Ban Ki-moon mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif dalam beberapa hari yang lalu dan ia yakin bahwa Iran dapat mendukung rencana pembentukan pemerintahan transisi.

"Dia menjamin saya bahwa seperti seluruh negara lainnya yang diundang pada diskusi pembuka di Montreux bahwa Iram memahami bahwa dasar pembicaraan adalah penerapan penuh Jenewa kominike 20 Juni 2012," katanya.

"Itu adalah dasar bahwa Menteri Luar Negeri Zarif berjanji Iran akan memainkan peran positif dan konstruktif di Montreux," kata Ban sambil menambahkan bahwa ia memperkirakan Iran akan segera memberikan pernyataan resmi mengenai sikap terhadap undangan tersebut.

Ia juga mengatakan bahwa sebanyak 10 negara tambahan akan menghadiri pembicaraan damai 22 Januari mendatang yakni Vatikan, Australia, Bahrai, Belgium, Yunani, Luxembourg, Mexico, Belanda, Korea Selatan, dan Iran.

Selain itu Ban menegaskan bahwa negosiasi penuh antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi akan dimulai pada 24 Januari di Jenewa. Pemain kunci dalam pembicaraan adalah Pemerintahan Assad dan kelompok oposisi. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA