Seperti dikabarkan
Al Jazeera hari ini (Selasa, 22/10), lebih dari 20 kandidat telah terdaftar sebagai capres yang akan menggantikan Presiden Hamid Karzai saat ini. Para aparat keamanan Afghanistan pun bersiaga dan mengantisipasi segala celah yang dapat digunakan oleh kelompok pejuang untuk mengganggu proses pemilu yang didukung Amerika Serikat tersebut.
"Informasi intelijen menunjukkan bahwa musuh-musuh Afghanistan berencana untuk menggunakan metode teroris baru untuk mengganggu pemilihan," kata seorang pejabat Direktorat Keamanan Nasional Keamanan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar para kandidat meningkatkan kewaspadaanya.
"Hindari menerima hadiah seperti ponsel, komputer, kamera dan paket lain sebelum diperiksa oleh petugas keamanan," ia menyarankan.
Sebelumnya, berbagai metode terorisme baru banyak terjadi di Afghanistan. Seperti yang terjadi pekan lalu ketika sebuah bom yang disembunyikan di sebuah mikrofon meledak dan menewaskan Gubernur Provinsi Logar ketika tengah berpidato di sebuah masjid setelah sholat Ied. Taliban mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas hal tersebut.
Kejadian lainnya terjadi tahun lalu ketika Kepala Direktorat Asadullah Khalid terluka parah setelah seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bahan peledak yang disembunyikan di celana dalamnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: