Kepada masyarakat AS, Obama pernah mengatakan bahwa dirinya menjali kerjasama dengan sekutu AS untuk memberikan bantuan kemanusian kepada masyarakat Suriah yang menjadi korban. Juga untuk membantu kelompok oposisi moderat membentuk pemerintahan pasca Bashar Assad. Hanya dengan demikian krisis yang telah berjalan selama 2,5 tahun dan membunuh lebih dari 100 ribu orang serta membuat jutaan lainnya mengungsi ini dapat dihentikan.
Namun menurut jaringan berita
Newsmax pernyataan dan strategi umum Obama itu sering kali tidak jelas dan bertolak belakang, terlebih ketika ia mengatakan mempersiapkan serangan terbatas ke Damaskus untuk memaksa Assad.
Pernyataan terakhir yang disampaikan Barack Obama menyusul kesepakatan Jenewa juga tak kalah membingungkan. Di satu sisi ia menyambut baik kesepakatan dengan Rusia untuk memberikan kesempatan kepada Suriah menyerahkan daftar senjata kimia mereka dalam satu minggu diikuti inspeksi tim internasional hingga November mendatang. Tetapi di sisi lain, ia menyiapkan gertakan khas kaum konservatif, bahwa Amerika Serikat akan menyiapkan serangan bila diplmasi gagal.
Banyak kalangan pengamat internasional yang merasa Obama terlalu bersemangat memindahkan konflik di dalam negeri terkait program Obamacare. Obama belakangan ini juga dinilai memiliki semangat yang sama dengan George Bush ketika ingin menyerang Baghdad di tahun 2003.
Obama sedang berusaha me-
recovery perspesi negatif publik internasional atas kebijakan umum AS dalam krisis Suriah. Kampanye Obama di forum G-20 yang tak membuahkan hasil adalah kekahalan telak Obama. Di sisi lain, Rusia mendapatkan kekuatan moral setelah berhasil menarik AS dalam pembicaraan di Jenewa.
Barangkali Obama mengira ia akan dengan mudah menaklukkan Suriah seperti Libya. Tatapi kelihatannya ada salah perhitungan mengenai sikap tegas Rusia terhadap krisis Suriah ini.
[dem]
BERITA TERKAIT: