Demikian juga yang dirasakan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton. Ia bahkan menggambarkan bahwa situasi saat ini sangat sulit dan berbahaya.
Dilansir
BBC (Sabtu, 19/1), istri mantan presiden AS tersebut mengatakan bahwa Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal telah memberitahunya bahwa operasi masih berlangsung dan situasi masih belum stabil, sementara sandera tetap dalam bahaya di sejumlah kasus.
Hal inilah yang membuat Hillary merasa khawatir dengan warga negaranya yang masih disandera oleh kelompok militan tersebut.
Sementara itu, pemerintah Aljazair mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil membebaskan ratusan sandera dari fasilitas gas yang berada di Gurun Aremas itu. Namun demikian, sedikitnya 30 pekerja asing masih belum ditemukan dan diduga masih menjadi sandera.
Kantor berita
APS mengabarkan 12 pekerja Aljazair dan asing ditemukan tewas dalam upaya penyelamatan yang dilakukan sejak Kamis (17/1) lalu.
APS juga memberitakan 573 warga Aljazair dan sedikitnya 100 orang dari 132 pekerja asing telah dibebaskan dalam operasi yang berlangsung selama 36 jam. Sedangkan 18 militan dikabarkan tewas. Para militan masih berada di fasilitas gas itu dan sekitar 10 warga Inggris diperkirakan masih tersandera.
Sumber keamanan Aljazair mengatakan diantara para sandera yang tewas adalah delapan warga negara Aljazair, dua warga Jepang, dua warga Inggris dan satu berkebangsaan Prancis. Tetapi kebangsaan korban tewas lainnya belum jelas.
[ian]
BERITA TERKAIT: