Padahal sebelum berlangsungnya pemungutan suara, Papandreou telah menyatakan siap mundur dari jabatan yang disandangnya. Bahkan dirinya sendiri sudah demikian pesimis mengingat tugas berat mengakhiri secepatnya krisis ekonomi Yunani.
"Saya bahkan tidak peduli bila tidak terpilih lagi. Kini waktunya membuat upaya baru. Saya tidak pernah berpikir menjadikan politik sebagai profesi," kata Papandreou yang dikutip berbagai media internasional termasuk
Al Jazeera (Sabtu, 5/11).
Setelah parlemen Yunani memberikan kesempatan padanya untuk tetap memerintah, Papandreou pun langsung menyerukan pembentukan koalisi bersama menangani krisis. Krisis ekonomi yang melanda Yunani kini telah berkembang menjadi krisis sosial dan politik. Untuk itu, menurut Papandreou, dibutuhkan banyak koalisi untuk menyamakan visi parlemen dalam menangani masalah tersebut.
"Kami, para deputi Partai Sosialis, membawa salib reformasi. Tapi satu kelompok di parlemen (saja) tidak cukup. Ini tugas besar dan memerlukan dukungan yang tulus dari semua pihak,'' seru Papandreou.
Keputusan parlemen menyelamatkan Papandreou dari mosi tidak percaya membuat para pemimpin Eropa kecewa. Pasalnya Papandreou memberi sinyal tidak akan mengikuti anjuran Uni Eropa untuk menerima utang baru (
bailout) dari Uni Eropa, memangkas anggaran dan menaikkan pajak.
Papandreou menduga
bailout baru dari Uni Eropa itu disertai syarat memberatkan pemerintah dan rakyat Yunani. Sementara demonstrasi massa di Yunani tidak kunjung berhenti meminta pemerintah menolak syarat berat dari Uni Eropa.
[ald]
BERITA TERKAIT: