Pemerintah Filipina telah menyatakan menghentikan pengiriman pembantu rumah tangga ke Kerajaan Arab Saudi hingga ada kesepakatan mengenai gaji minimum. penangguhan pengiriman tenaga kerja domestik tersebut kemungkinan akan menimbulkan dampak besar bagi kedua negara.
Permasalahan upah minimum ini mulai mengemuka pada bulan Maret, ketika pemerintah Filipina mengumumkan agar pekerja domestik dari negeri itu harus digaji setidaknya 400 dollar Amerika per bulan atau sekitar Rp 3,5 juta dan mendapatkan jaminan kondisi kerja yang manusiawi. Namun, Arab Saudi secara tersirat menghendaki upah minimum bagi tenaga kerja domestik asal Filipina hanya setengah dari jumlah tersebut.
Pemerintah Filipina menyatakan akan memberlakukan syarat-syarat baru untuk menjamin perlakuan yang pantas bagi warganya yang bekerja di luar negeri. Tindakan ini diambil setelah beberapa pembantu rumah tangga di Saudi mengadukan bahwa mereka menjadi korban penganiayaan dan penunggakan pembayaran gaji.
Keberadaan warga Filipina yang bekerja di luar negeri memiliki arti penting bagi negara Asia Tenggara tersebut. Sekitar empat juta orang Filipina bekerja di luar negeri, termasuk satu juta orang yang mencari uang di berbagai perusahaan dan rumah di Arab Saudi.
Sebagaimana dilansir
BBC (Minggu, 22/5), setiap tahun Filipina mengirimkan sedikitnya 13 ribu warganya ke Saudi untuk menjadi pembantu rumah tangga.
Devisa yang masuk dari warga yang bekerja di luar negeri ini sangat membantu perekonomian Filipina. Peluang kerja di Filipina sangat terbatas, maka banyak warga Filipina yang mengandalkan negara lain untuk mendapatkan kesempatan kerja dan memperoleh pendapatan untuk keluarga mereka dengan resiko yang beragam.
[yan]
BERITA TERKAIT: