Wakil Menteri Luar Negeri Libya, Khaled Kaim menegaskan bahwa pemerintah tidak menarik pasukan bersenjata dari Misurata, tetapi berhenti beroperasi. Langkah ini dilakukan atas permintaan para tetua suku untuk mengantisipasi terjadi suatu pemberontakan besar yang tidak bisa ditangani sendirian oleh suku-suku di Misurata.
"Pilihan yang masih tersedia dari kepala suku (Misurata) adalah intervensi militer untuk membebaskan Misurata," ujar Khaled Kaim seperti dikutip
BBC, (Minggu, 24/4).
Menurut Kaim, suku-suku di Misurata sempat marah karena kehidupannya telah terganggu oleh pertempuran yang terjadi berminggu-minggu, yang telah merusak akses jalan utama di pesisir dan juga telah menghentikan aktivitas perdagangan di kota itu. Pilihan terakhir dari suku-suku di Misurata jika tidak bisa mengalahkan para pemberontak adalah meminta bantuan kepada pasukan bersenjata Libya.
[wid]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: