Mengutip data Bloomberg pada pukul 09.30 WIB, Rupiah berada di level Rp17.609 per Dolar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan pasar tidak terlepas dari kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi global.
"AS dan Iran terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada bulan Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda sejenak pada bulan Agustus," kata Ibrahim dalam risetnya.
Menurutnya, Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Sementara AS mengaku membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
"Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan," ujarnya.
Ibrahim menilai serangan tersebut memperbesar risiko gangguan pasokan energi di kawasan Teluk, terutama jika konflik meluas hingga ke luar Selat Hormuz.
Sementara itu harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 6 persen pada penutupan perdagangan Kamis 10 September 2026, dengan kedua harga acuan utama menembus level 100 Dolar AS per barel.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 6,42 Dolar AS atau 6,34 persen menjadi 107,63 Dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 6,69 persen menjadi 102,48 Dolar AS per barel. Angka ini pertama kalinya tembus ke level 100 Dolar AS sejak Mei.
Kedua harga acuan tersebut juga mencapai level tertinggi sejak 19 Mei sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan.
BERITA TERKAIT: