Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan harga bahan baku penolong yang masih diperoleh dari impor.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (Sesditjen IKFT) Kementerian Perindustrian, Putu Nadi Astuti, mengatakan pelemahan Rupiah meningkatkan beban biaya produksi industri alas kaki, sementara pelaku usaha menghadapi keterbatasan untuk menaikkan harga jual di pasar domestik.
"Di sisi lain, industri dalam negeri juga menghadapi tekanan kenaikan Harga Pokok Produksi karena peningkatan harga bahan baku penolong yang diperoleh dari impor dan juga pelemahan Rupiah yang akhirnya akan mendongkrak biaya produksi, sementara harga jual di pasar lokal tidak dapat dinaikkan," kata Putu dalam pemaparan Rilis IKI di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Putu menjelaskan, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki merupakan salah satu dari dua subsektor IKFT yang mengalami kontraksi pada September 2026. Sementara lima subsektor lainnya tercatat mengalami ekspansi.
Tekanan biaya tersebut terjadi ketika permintaan domestik terhadap produk kulit dan alas kaki juga melemah. Kondisi pasar produk kulit dan alas kaki tercatat mengalami kontraksi pada Januari 2026 serta periode Mei hingga September 2026.
"Sumber kontraksi utama adalah variabel pesanan dikarenakan konsumen yang cenderung mengurangi konsumsi untuk barang non-kebutuhan pokok," ujarnya.
Penurunan pesanan terutama berasal dari pasar domestik. Pelemahan pesanan terutama terjadi melalui saluran penjualan retail yang mencapai 60 persen responden serta pesanan grup atau korporasi sebesar 60 persen responden.
Di sisi lain, ekspor industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, dengan nilai ekspor mencapai 5,58 miliar Dolar AS.
Namun, pertumbuhan ekspor tersebut masih menghadapi persoalan pengiriman yang menyebabkan penumpukan persediaan di gudang. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan tekanan biaya produksi akibat bahan baku impor dan pelemahan Rupiah.
Mata uang Garuda itu ditutup di level Rp17.894 per Dolar AS, menguat 87 poin atau 0,48 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang sempat menembus Rp18.000 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: