Sentimen negatif tersebut kian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah yang menembus 100 Dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 19 Mei, serta kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menyentuh level 4,95 persen.
Tekanan jual langsung menghantam bursa utama kawasan sejak pembukaan sesi. Indeks Nikkei 225 di Jepang terperosok 2,59 persen ke level 63.579,16, sementara di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 2,45 persen ke posisi 6.861,88 setelah saham-saham teknologi raksasa seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mengalami kejatuhan tajam masing-masing sebesar 3,8 persen dan 4 persen.
Koreksi serupa turut melanda bursa regional lainnya. Indeks ASX 200 di Australia melemah 0,86 persen ke level 8.743,20, dan kontrak berjangka Hang Seng di Hong Kong terpantau merosot ke posisi 24.701.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan turut menghadapi tekanan lanjutan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.589,34.
Tekanan eksternal ini semakin terkonfirmasi setelah ETF saham Indonesia (EIDO) di Bursa Efek New York ambles 2,13 persen ke level 12,85 Dolar AS.
BERITA TERKAIT: