Isu tersebut beredar di media sosial TikTok yang menyebut dirinya mengumpulkan uang untuk pengisian posisi tertentu di Kemenkeu.
“Terkait mutasi ini, ada isu di TikTok yang menyebutkan Pak Purbaya mengumpulkan uang Rp100 miliar untuk posisi tertentu. Saya bingung dari mana isu itu keluar,” kata Purbaya saat melantik ratusan pejabat di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Ia mengatakan dirinya telah mengonfirmasi isu tersebut kepada Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun. Dari hasil pengecekan tersebut, tidak ditemukan fakta yang mendukung rumor jual-beli jabatan tersebut.
Bendahara negara itu memastikan proses rotasi, mutasi, hingga promosi pejabat di Kemenkeu dilakukan berdasarkan kinerja dan melalui mekanisme penilaian berjenjang.
“Saya tanya, beliau bilang tidak ada, itu rumor saja. Jadi ini betul-betul professional-based,” jelas Purbaya.
Menurut Purbaya, pengisian jabatan di Kemenkeu tidak ditentukan oleh Menteri Keuangan seorang diri. Setiap pejabat yang diusulkan harus melalui proses evaluasi dan mendapat pertimbangan dari pimpinan terkait.
“Yang menaikkan posisi bukan saya sendiri; ada yang mengusulkan, Pak Sekjen menilai, dan setiap pejabat eselon I yang ada saya tanya apakah orang tersebut cocok atau tidak. Semuanya terlibat walaupun saya panggil sendiri-sendiri,” jelasnya lagi.
Ia menyebut jajaran eselon I ikut dimintai pandangan untuk mengetahui rekam jejak serta prestasi pegawai yang diusulkan menduduki suatu posisi.
Purbaya pun mengingatkan jajaran Kemenkeu agar menjaga integritas dalam menjalankan tugas. Menurutnya, prinsip tersebut penting karena kementeriannya memiliki kewenangan besar dalam pengelolaan keuangan negara.
“Seperti yang saya sampaikan tadi, kalau saya pernah menerima uang dari isu Rp100 miliar itu, pasti laku dengan cepat. Untung saya tidak pernah menerima. Integritas itu amat penting,” tuturnya.
Ia menegaskan jabatan di lingkungan Kemenkeu merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan pengawasan.
“Oleh karena itu, tidak boleh ada kompromi terhadap integritas. Jabatan adalah amanah, bukan privilege. Semakin tinggi jabatan Saudara, semakin besar pula tanggung jawab dan pengawasannya,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: