Rupiah Melemah di Tengah Gejolak Timur Tengah, NPI Dibayangi Defisit

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Rabu, 02 September 2026, 09:55 WIB
Rupiah Melemah di Tengah Gejolak Timur Tengah, NPI Dibayangi Defisit
Ilustrasi. (Foto: Generate AI)
Kecil Besar
rmol news logo Nilai tukar Rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. 

Mengutip data Bloomberg, Rupiah bergerak ke level Rp17.766 per Dolar AS. Posisi ini melemah 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks Dolar AS tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi geopolitik tersebut turut berdampak terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia. Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak berpotensi kembali menekan neraca pembayaran Indonesia (NPI).

“Neraca Perdagangan Juli surplus karena harga minyak mentah sempat turun mendekati 65 Dolar AS per barel. Namun tensi Timur Tengah di Agustus dan September diatas 80 Dolar AS per barel, dimungkinkan NPI kembali defisit,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 hanya mencatat surplus tipis sebesar 120 juta Dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan surplus tersebut sekaligus mengakhiri tren defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut.

“Pada Juli tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar 0,12 miliar Dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa, 1 September 2026.

Surplus tersebut ditopang oleh nilai ekspor Juli 2026 yang mencapai 26,22 miliar Dolar AS. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar 26,09 miliar Dolar AS. Dengan demikian, selisih ekspor dan impor pada Juli hanya sekitar 120 juta Dolar AS.

Kenaikan harga minyak mentah, menurut Ibrahim, berpotensi kembali menekan kinerja eksternal Indonesia. 

Jika harga minyak kembali berada di atas 80 Dolar AS per barel, kondisi itu dapat meningkatkan nilai impor energi dan mempersempit surplus perdagangan, yang pada akhirnya berisiko menekan posisi transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA