“Dunia sedang dibanjiri utang, dan satu-satunya cara bagi kita untuk keluar dari situasi ini adalah dengan tumbuh dan keluar dari situasi ini,” kata Bessent saat membuka pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Asheville, North Carolina, Senin 31 Agustus 2026, dikutip dari
CNBC International, Selasa 1 September 2026.
Selain utang yang mencapai sekitar 40 triliun Dolar AS, pemerintah AS diperkirakan mencatat defisit sekitar 2 triliun Dolar AS pada tahun fiskal 2026.
Bessent mengatakan kondisi ekonomi AS kini telah lebih stabil dan memasuki tahap pemulihan. Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti seorang dokter yang menangani pasien dalam keadaan kritis.
“Saya merasa seperti dokter di ruang gawat darurat, dan ekonomi adalah pasiennya. Kami telah menstabilkan pasien, dan sekarang kami berada dalam tahap penyembuhan,” ujarnya.
Di tengah kekhawatiran atas besarnya utang pemerintah, Bessent juga menilai pasar obligasi AS masih cukup kuat. Ia menyebut imbal hasil Treasury 10 tahun relatif datar sejak Presiden Donald Trump menjabat dan mengklaim pasar obligasi AS masih berkinerja lebih baik dibandingkan pasar global lainnya.
“Jika ada masalah di pasar obligasi AS, maka orang-orang akan menjual obligasi AS dan membeli obligasi negara lain. Tetapi kami adalah pasar dengan kinerja terbaik,” katanya.
Namun, data menunjukkan imbal hasil Treasury 10 tahun sebenarnya telah meningkat sekitar 15 basis poin sejak Januari 2025. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun naik sekitar 40 basis poin.
Menurut Bessent, sejumlah persoalan masih menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Di antaranya regulasi yang berlebihan, sistem perpajakan yang kurang efektif, minimnya investasi, serta kesenjangan keterampilan tenaga kerja.
Pemerintahan Trump, kata dia, tengah berupaya mengatasi persoalan tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kuat.
Selain persoalan ekonomi, Bessent dalam forum G20 juga menegaskan AS akan terus memberikan tekanan kepada Iran melalui sanksi dan blokade ekonomi. Ia menepis anggapan bahwa strategi tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan China.
BERITA TERKAIT: