Deutsche Bank menilai, potensi pergeseran strategi ini mengemuka setelah bank sentral AS mengambil sikap lebih hawkish di bawah kepemimpinan Chairman anyar, Kevin Warsh.
Berdasarkan proyeksi dot plot terkini, setidaknya separuh dari 18 anggota FOMC mengisyaratkan minimal satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Di saat yang sama, Warsh yang gencar menekankan komitmen pengendalian inflasi juga tengah menggelar evaluasi menyeluruh terhadap operasional kebijakan moneter The Fed.
Sebagai alternatif kenaikan suku bunga, The Fed dapat mengetatkan likuiditas dengan memangkas nilai neracanya yang saat ini berada di kisaran 6,7 triliun Dolar AS, turun dari level puncaknya sebesar 9 triliun Dolar AS pada 2022.
Kepala Riset Valuta Asing Global Deutsche Bank, George Saravelos, menyoroti rekam jejak Bank of Japan (BoJ) sebagai bahan perbandingan. Meski tergolong lambat menaikkan suku bunga, BoJ terhitung agresif menyerap likuiditas dengan membiarkan obligasi pemerintah (JGBs) yang jatuh tempo tanpa melakukan pembelian kembali.
Hasilnya, pengetatan lewat neraca terbukti gagal memperkuat Yen, yang bahkan sempat terperosok ke level terendah dalam empat dekade, karena tidak diimbangi kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek. Bagi Saravelos, hal ini mempertegas bahwa lonjakan yield obligasi jangka panjang AS tanpa dukungan kenaikan suku bunga jangka pendek tidak akan mampu memberi dorongan positif bagi greenback.
Di luar efeknya terhadap nilai tukar, skema pemangkasan neraca berisiko memicu konflik antara The Fed dan pemerintah AS. Pemerintah berkepentingan menjaga yield obligasi tenor panjang tetap rendah demi menekan beban bunga utang negara—situasi yang serupa dengan tekanan terhadap independensi BoJ di Jepang.
Deutsche Bank menambahkan, porsi kepemilikan surat utang AS oleh The Fed sebenarnya belum terhitung berlebihan jika dibandingkan dengan skala ekonomi negara maupun standar bank sentral global lainnya. Oleh sebab itu, bank investasi asal Jerman ini meragukan efektivitas penyusutan neraca sebagai instrumen penjinak inflasi.
Apabila The Fed benar-benar mengalihkan fokus pengetatan moneter dari suku bunga ke pengurangan neraca, Deutsche Bank menegaskan bahwa dinamika tersebut akan menjadi sinyal negatif yang nyata bagi prospek Dolar AS.
BERITA TERKAIT: